Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Ekonomi

Inovasi Pertanian Terintegrasi Diterapkan di Pesantren Bogor, Gabungkan Pangan dan Energi Terbarukan

×

Inovasi Pertanian Terintegrasi Diterapkan di Pesantren Bogor, Gabungkan Pangan dan Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini
Sistem pertanian terintegrasi berbasis hidroponik dan perikanan di pesantren Kabupaten Bogor
Sistem pertanian terintegrasi berbasis hidroponik, perikanan, dan peternakan yang diterapkan di Pondok Pesantren Daarul Hawariyyin, Kabupaten Bogor.

BOGOR — Sebuah pesantren di Kabupaten Bogor mulai mengembangkan sistem pertanian terintegrasi berbasis ekonomi sirkular melalui inovasi yang lahir dari kompetisi PFsains 2025. Program tersebut menggabungkan pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan sampah dalam satu ekosistem berkelanjutan.

Inovasi ini diterapkan di Pondok Pesantren Daarul Hawariyyin oleh tim dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila, yang menjadi salah satu pemenang kategori Implementation PFsains. Sistem yang dikembangkan mengusung konsep “4 in 1”, yakni integrasi hidroponik, budidaya ayam, perikanan lele, serta pengolahan sampah organik.

Penggagas program, Dr. Dino Rimantho, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang untuk menjawab sejumlah persoalan yang dihadapi pesantren, mulai dari kebutuhan pangan harian hingga pengelolaan limbah.

Menurut Dino, limbah organik pesantren dan kotoran ternak diolah melalui budidaya maggot black soldier fly (BSF). Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan, sementara air kolam ikan digunakan kembali untuk mendukung sistem hidroponik. Ikan lele yang dibudidayakan juga diolah menjadi produk pangan olahan berupa abon.

“Seluruh proses ini dirancang agar saling terhubung, efisien, dan minim limbah. Tujuannya bukan hanya mencukupi kebutuhan pangan santri dan pengajar, tetapi juga menekan biaya operasional pesantren,” kata Dino.

Dalam implementasinya, sistem ini turut didukung pemanfaatan energi terbarukan. Sebuah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp digunakan untuk menunjang operasional, mulai dari penerangan, pompa hidroponik, mesin pencacah sampah, hingga peralatan pengolahan maggot.

Dewan Pengawas Pertamina Foundation, Narendra Widjajanto, yang meninjau langsung lokasi penerapan inovasi tersebut, menilai sistem ini telah melampaui tahap konsep dan mulai memberikan manfaat nyata.

Ia menilai tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan model bisnis agar pesantren dapat memperoleh tambahan pendapatan dari sistem yang dijalankan. Menurutnya, skema serupa berpeluang diterapkan di pesantren lain dengan karakteristik yang sejenis.

Baca Juga  Lapas Sukamara dan Dinas Perikanan Kembangkan Pelatihan Budidaya Ikan bagi Warga Binaan

Pandangan serupa disampaikan Direktur Keuangan Pertamina Foundation, Tito Rahman Hidayatullah. Ia menilai inovasi tersebut berpotensi mendorong kemandirian pangan sekaligus menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri.

Kompetisi PFsains sendiri telah bergulir sejak 2020 dan fokus mendukung hilirisasi riset melalui pendanaan serta pendampingan inovasi teknologi dan energi. Hingga kini, puluhan produk riset telah difasilitasi untuk diuji dan diterapkan di masyarakat, sejalan dengan upaya penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *