JAKARTA — Setelah Australia, kini India menjadi negara terbaru yang mengincar pasokan pupuk urea asal Indonesia. Pemerintah India bahkan disebut mengajukan permintaan hingga 500 ribu ton, di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk global akibat ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman mengungkapkan permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar India melalui sambungan telepon.
Menurut Amran, pemerintah saat ini masih mengkaji peluang ekspor tersebut, termasuk mempertimbangkan negara mana yang memberikan nilai ekonomi paling menguntungkan bagi Indonesia.
“Duta Besar India telepon saya langsung meminta 500 ribu ton. Nanti kita lihat mana yang paling menguntungkan. Kalau kita ekspor, tentu dengan harga setinggi-tingginya, tetapi petani Indonesia harga pupuknya tetap turun karena subsidi,” kata Amran saat media briefing di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Amran memastikan pemerintah mengupayakan ekspor pupuk dapat terealisasi pada tahun ini. Ia menyebut stok pupuk nasional saat ini berada dalam kondisi surplus sehingga dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang pasar ekspor.
“Kita upayakan tahun ini. Stok kita masih banyak, masih surplus,” ujarnya.
Permintaan dari India menambah daftar negara yang mulai melirik Indonesia sebagai pemasok pupuk di tengah meningkatnya tekanan global terhadap distribusi bahan baku pertanian.
Sebelumnya, pemerintah telah merealisasikan ekspor pupuk ke Australia dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp7 triliun. Bahkan, kata Amran, Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins turut menghubunginya untuk membahas kerja sama tersebut.
“Yang pupuk itu kita sudah ekspor ke Australia. Nilainya sekitar Rp7 triliun. Menteri pertaniannya juga telepon saya beberapa hari lalu,” kata dia.
Tak hanya India dan Australia, sejumlah negara lain seperti Filipina, Brasil, Pakistan, hingga Bangladesh juga disebut mulai mengajukan permintaan pasokan pupuk dari Indonesia.
Situasi ini, menurut pemerintah, tak lepas dari meningkatnya kekhawatiran global terhadap pasokan energi dan bahan baku pupuk akibat konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut banyak negara mulai menghadapi tekanan serius akibat terganggunya distribusi energi global. Kondisi tersebut membuat sejumlah negara mencari alternatif pasokan pupuk, termasuk dari Indonesia.
“Australia minta tolong kita, Filipina minta, India minta, Bangladesh minta, Brasil minta. Perintah saya, bantu semua,” kata Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.601 Koperasi Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tidak ingin berlebihan menyikapi meningkatnya permintaan tersebut. Pemerintah, kata dia, lebih melihat kondisi ini sebagai tanda bahwa posisi Indonesia mulai diperhitungkan dalam rantai pasok pangan global.
“Kita tidak euforia, tidak sombong. Tapi sekarang kita berada di posisi bisa membantu negara lain,” ujarnya.












