MAJALENGKA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pemilik toko komponen dan aksesori handphone mengeluhkan lonjakan harga suku cadang yang memukul biaya operasional sekaligus menekan omzet penjualan.
Kondisi tersebut dirasakan Eet, pemilik toko komponen handphone di kawasan Leuwiseeng, Majalengka. Ia mengaku harga sejumlah komponen impor terus merangkak naik seiring melemahnya rupiah yang disebut telah menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS.
Menurut dia, kenaikan paling terasa terjadi pada komponen penting seperti LCD, baterai, mikrofon, hingga aksesori handphone lainnya yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan luar negeri.
“Harga barang sekarang naik terus. Kalau LCD rata-rata bisa naik sampai Rp50 ribu, sementara komponen lain ada yang naik sekitar Rp20 ribu. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan harga,” ujar Eet.
Kenaikan harga suku cadang itu, kata dia, ikut memengaruhi daya beli masyarakat. Banyak pelanggan memilih menunda perbaikan perangkat atau mencari alternatif dengan biaya lebih murah.
Akibatnya, omzet penjualan dan jasa servis handphone mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
“Kalau kondisi dolar terus naik, jelas berat bagi kami. Harapannya situasi bisa kembali normal supaya usaha tetap jalan dan penjualan kembali stabil,” katanya.
Dampak kenaikan harga komponen juga dirasakan pengguna yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada telepon genggam, salah satunya pengemudi ojek online.
Adit, pengemudi ojek online di Majalengka, mengaku biaya perbaikan handphone kini terasa lebih mahal, padahal perangkat tersebut menjadi alat utama untuk bekerja.
Menurut dia, kerusakan handphone sekecil apa pun bisa langsung memengaruhi penghasilan harian karena seluruh pesanan pelanggan bergantung pada aplikasi digital.
“Handphone itu sudah seperti nyawa buat ojol. Kalau rusak atau mati, otomatis kami tidak bisa narik. Tapi sekarang biaya servis dan ganti sparepart makin mahal,” ujarnya.
Pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar rupiah dapat segera membaik agar harga bahan baku kembali terkendali. Sebab, lonjakan harga komponen tak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada perangkat komunikasi untuk bekerja maupun beraktivitas sehari-hari.












