Majalengka — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kenaikan biaya impor membuat sejumlah kebutuhan sandang, mulai dari pakaian hingga perlengkapan rumah tangga, mengalami lonjakan harga.
Dampak itu dirasakan para pedagang di Desa Baribis, Kecamatan Cigasong. Sejumlah produk seperti baju, celana, karpet permadani, hingga seprai dilaporkan mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Pelaku usaha menyebut kenaikan harga rata-rata mencapai sekitar 15 persen. Kondisi tersebut dipicu naiknya biaya modal, terutama pada barang yang bahan baku atau distribusinya dipengaruhi kurs dolar AS.
“Beberapa barang memang mengalami kenaikan harga, terutama karpet dan seprai,” kata salah satu pelaku usaha di wilayah tersebut.
Kenaikan harga membuat daya beli masyarakat ikut terdampak. Sejumlah konsumen mulai mengurangi pembelian atau menunda belanja kebutuhan non-prioritas karena harga dinilai semakin mahal.
Fauziah, salah satu pembeli, mengaku kini lebih selektif saat berbelanja kebutuhan rumah tangga dan pakaian.
“Harga sekarang terasa lebih mahal dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Tak hanya sektor sandang, pelemahan rupiah juga mulai berdampak pada bisnis perjalanan ibadah umrah dan haji.
Pengusaha travel di Majalengka menyebut biaya operasional meningkat, terutama pada komponen tiket pesawat dan hotel yang menggunakan mata uang asing. Kondisi itu memaksa penyelenggara menyesuaikan harga paket perjalanan.
Memet Tasmat, salah satu pengusaha travel umrah, mengatakan biaya perjalanan umrah terpaksa dinaikkan sekitar Rp3 juta untuk menutupi kenaikan komponen biaya.
Menurutnya, kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi minat masyarakat untuk mendaftar umrah di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.
Pelaku usaha berharap nilai tukar rupiah segera membaik agar harga barang kebutuhan dan biaya layanan kembali stabil, sehingga daya beli masyarakat tidak terus tertekan.












