Kotabaru — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kotabaru masih menghadapi persoalan serius berupa kelebihan kapasitas penghuni. Jumlah warga binaan saat ini tercatat jauh melampaui daya tampung ideal lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Kotabaru, Doni Hardiansyah, mengatakan saat ini lapas dihuni 556 warga binaan, sementara kapasitas ideal hanya tersedia untuk 226 orang.
Kondisi tersebut, kata Doni, menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan, pelayanan, hingga pembinaan di lingkungan lapas.
“Memang saat ini posisi kami over kapasitas. Untuk mengatasinya, kami melakukan pemindahan ke lapas lain serta mempercepat layanan program integrasi,” kata Doni, Jumat (15/5/2026).
Salah satu langkah yang ditempuh yakni melalui inovasi Cerwin (Integrasi Cepat Warga Binaan). Program ini diterapkan dengan sistem jemput bola, yakni memeriksa data warga binaan yang telah memenuhi syarat integrasi untuk segera diproses.
Menurut Doni, kepadatan penghuni berpotensi meningkatkan risiko gangguan keamanan di dalam lapas. Meski begitu, ia memastikan kondisi hingga kini masih terkendali.
“Risiko pengamanan tentu meningkat, tapi sampai sekarang masih bisa kami kendalikan. Pelayanan terbaik tetap kami berikan bagi warga binaan maupun keluarganya,” ujarnya.
Selain aspek keamanan, over kapasitas juga berdampak terhadap pelayanan kesehatan dan program pembinaan warga binaan.
Karena itu, pihak lapas berharap ada solusi jangka panjang melalui relokasi atau pembangunan fasilitas pemasyarakatan yang lebih representatif.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat mendukung rencana relokasi agar pembinaan warga binaan berjalan lebih optimal,” kata Doni.
Di tengah keterbatasan ruang hunian, Lapas Kotabaru mengaku tetap berupaya menjaga program pembinaan berjalan normal, termasuk pengembangan keterampilan bagi warga binaan.
Doni menyebut hasil karya warga binaan selama ini menjadi bagian dari pembinaan produktif yang terus dikembangkan di dalam lapas.
Terkait peringatan Hari Jadi ke-76 Kabupaten Kotabaru, pihak lapas juga menyatakan siap berpartisipasi apabila kembali dilibatkan dalam kegiatan daerah, termasuk menampilkan hasil karya warga binaan seperti tahun sebelumnya.












