Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kritik publik sebagai sarana introspeksi bagi pemimpin. Ia menolak anggapan dirinya sebagai sosok otoriter, dan menyebut kritik sebagai bagian dari proses demokrasi.
Dalam acara pemusnahan narkoba di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/10), Prabowo mengaku sering menonton podcast berisi kritik terhadap dirinya.
“Malam-malam saya buka (podcast), apa iya saya otoriter? Rasanya tidak,” ujarnya, disambut tawa para hadirin.
Prabowo mengakui terkadang merasa kesal, namun menjadikan kritik itu bahan renungan pribadi.
“Kadang-kadang dongkol juga, tapi saya catat. Oke, ini jadi bahan introspeksi,” katanya.
Presiden menegaskan bahwa pemimpin sejati tidak boleh anti-kritik. Ia menilai koreksi publik penting untuk mencegah kesalahan kebijakan.
“Pemimpin yang tidak mau dikoreksi akan terjebak dalam kesalahan. Koreksi itu baik,” tegasnya.
Prabowo juga mengingatkan generasi muda agar tidak takut difitnah saat berjuang mencapai cita-cita.
“Saya kasih ilmu untuk yang muda-muda yang ingin jadi presiden: jangan takut difitnah,” tutupnya.












