JAKARTA — Pertamina Patra Niaga terus memperluas kontribusinya dalam peningkatan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Upaya tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Gizi Nasional 2026, sekaligus respons terhadap persoalan kesehatan dasar yang masih dihadapi sejumlah wilayah di Indonesia.
Program TJSL di bidang kesehatan dijalankan secara terpadu, mulai dari pemberian makanan tambahan, pendampingan pencegahan stunting, pelayanan kesehatan dasar, hingga edukasi penyusunan menu bergizi berbasis pangan lokal. Sejak 2022 hingga 2025, program tersebut menjangkau lebih dari 3.000 penerima manfaat di 28 desa pada berbagai daerah operasional perusahaan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan fokus utama program tersebut adalah kelompok masyarakat rentan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia, yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan dan pemenuhan gizi.
“Pemenuhan gizi yang baik menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Program TJSL kami diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat dengan pendekatan berkelanjutan,” ujar Roberth, dikutip Senin (26/1/2026).
Salah satu contoh program dijalankan di Kelurahan Lontong Pancur, Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung, melalui Kampung Iklim Pengentasan Stunting. Program tersebut mengombinasikan upaya perbaikan gizi dengan penguatan ketahanan pangan keluarga, salah satunya melalui pemanfaatan hidroponik.
Berdasarkan pendataan awal, terdapat 18 anak yang terindikasi atau berisiko stunting di wilayah tersebut. Setelah intervensi berupa pemberian makanan tambahan dan pendampingan posyandu, jumlah anak yang masih terindikasi stunting menurun menjadi empat orang. Hasil panen hidroponik dimanfaatkan sebagai bahan pangan tambahan bagi balita sekaligus mendukung peran keluarga dalam pemenuhan gizi.
Program serupa juga dijalankan di wilayah Jawa Barat. Di Kabupaten Indramayu, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat menginisiasi program Gerakan Balongan Sehat dan Sejahtera (Garbatera) yang menyasar masyarakat pesisir. Kegiatan difokuskan pada edukasi kesehatan, intervensi gizi, serta penguatan peran Posyandu dan PAUD.
Data desa setempat mencatat jumlah balita stunting di wilayah tersebut mengalami penurunan secara bertahap, dari 32 kasus pada 2024 menjadi 30 kasus pada 2025. Penurunan ini dikaitkan dengan peningkatan kesadaran keluarga terhadap pola hidup bersih dan sehat.
Menurut Roberth, seluruh program kesehatan yang dijalankan perusahaan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya poin ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera.
“Perusahaan akan terus mendorong program sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat dan selaras dengan agenda pembangunan nasional, terutama di bidang kesehatan,” ujarnya.












