SURABAYA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menemukan sejumlah dugaan pelanggaran higienitas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh, produsen program Makan Bergizi Gratis (MBG), usai insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 210 orang.
Temuan itu diungkap Kepala Dinkes Surabaya dr. Billy Daniel Messakh dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Kota Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Salah satu temuan utama berada pada proses thawing atau pelunakan daging beku. Daging disebut ditempatkan di dalam bak dan dialiri air sekitar dua jam di area yang dinilai kurang higienis.
“Proses thawing dilakukan di area kotor dan cukup berisiko terhadap kontaminasi,” kata Billy.
Dari dokumentasi yang dipaparkan Dinkes, area lantai dapur terlihat memiliki kerak dan kebersihannya dinilai tidak memenuhi standar. Kondisi itu disebut berpotensi memicu pertumbuhan bakteri.
Tim Dinkes juga menemukan banyak lalat di area pengolahan makanan. Selain itu, terdapat jeda waktu cukup panjang dalam proses pengolahan daging, mulai dari perebusan hingga pemasakan akhir.
Menurut Billy, jeda pengolahan lebih dari dua jam berisiko meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme penyebab keracunan pangan.
“Terdapat jeda waktu cukup lama dalam proses pengolahan yang berpotensi memicu pertumbuhan mikroorganisme,” ujarnya.
Temuan lain berupa minimnya sistem pengendalian hama. Perangkap serangga dinilai tidak memadai, sementara akses keluar masuk dapur terlalu terbuka sehingga memudahkan lalat masuk.
Petugas juga menemukan lubang di area dapur yang diduga dapat menjadi akses masuk tikus.
Selain itu, dapur SPPG Bubutan Tembok Dukuh diketahui belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dokumen penting untuk menjamin keamanan pengolahan makanan.
Dinkes menduga insiden keracunan massal dapat dipicu kontaminasi kimiawi atau toksin bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang diperkirakan keluar pada 18 Mei 2026.












