Jakarta — Pernyataan yang menyebut aktivitas gym identik dengan rendahnya kecerdasan menuai kritik dari berbagai kalangan.
Komentar tersebut disampaikan dalam sebuah siniar pada Kamis (26/3/2026) dan memicu perdebatan di ruang publik. Pernyataan itu dinilai berpotensi menyesatkan, terutama di tengah upaya mendorong gaya hidup aktif.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, , menilai aktivitas di pusat kebugaran justru melibatkan proses kognitif yang kompleks. Latihan fisik, termasuk angkat beban, membutuhkan pemahaman mengenai anatomi tubuh, pengaturan intensitas latihan, serta perencanaan program yang terstruktur.
Selain aspek teknis, pelaku gym juga dituntut mengatur pola makan dan kebutuhan nutrisi secara tepat untuk mendukung performa dan pemulihan tubuh.
Secara ilmiah, aktivitas fisik rutin diketahui berkontribusi terhadap peningkatan fungsi otak. Olahraga membantu memperlancar aliran darah ke otak serta merangsang pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan endorfin yang berperan dalam suasana hati dan konsentrasi.
Temuan (CDC) menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat meningkatkan daya ingat, memperbaiki suasana hati, serta menurunkan risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Aktivitas fisik juga dikaitkan dengan penurunan risiko penurunan fungsi kognitif, terutama pada kelompok usia lanjut. Studi menunjukkan individu yang tidak aktif memiliki risiko penurunan kognitif lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin berolahraga.












