Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Kesehatan

Penanganan Kanker pada Lansia Tak Hanya Soal Umur, tapi Kualitas Hidup

×

Penanganan Kanker pada Lansia Tak Hanya Soal Umur, tapi Kualitas Hidup

Sebarkan artikel ini
dr. Daniel Rizky, Sp.PD-KHOM, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi, saat memberikan penjelasan terkait penanganan kanker pada lansia
dr. Daniel Rizky, Sp.PD-KHOM, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi di Primaya Hospital Semarang.

JAKARTA — Jumlah penyintas kanker di Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia lanjut. Namun, peningkatan angka harapan hidup ini diikuti tantangan baru dalam penanganan pasien lansia.

Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) menunjukkan, tanpa perubahan strategi yang signifikan, beban kasus dan angka kematian akibat kanker di Indonesia pada periode 2025–2040 diperkirakan meningkat hingga 63 persen.

Di sisi lain, deteksi dini kanker masih menjadi persoalan. Banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut, padahal sekitar 50 persen kasus kanker dapat dicegah melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi, dr. Daniel Rizky, mengatakan peningkatan harapan hidup penyintas kanker tidak terlepas dari kemajuan teknologi diagnostik dan terapi yang semakin presisi.

“Perkembangan teknologi dan terapi membuat peluang hidup pasien semakin baik, terutama dengan deteksi dini yang lebih luas,” ujarnya.

Meski demikian, penanganan kanker pada lansia memiliki kompleksitas tersendiri. Salah satu faktor penting adalah kondisi kerapuhan atau frailty index, yang menggambarkan tingkat kebugaran biologis pasien.

“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien,” kata Daniel.

Ia menjelaskan, usia lanjut bukan berarti pengobatan harus dibatasi. Penanganan tetap mengacu pada jenis dan stadium kanker, dengan mempertimbangkan fungsi organ, penyakit penyerta, serta kondisi umum pasien.

Menurutnya, saat ini tersedia pilihan terapi yang lebih ramah bagi pasien lansia, dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup.

“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga kualitas hidup pasien selama dan setelah pengobatan,” ujarnya.

Selain aspek medis, dukungan keluarga dinilai berperan penting dalam proses pemulihan. Ia mengingatkan agar pasien tidak dibatasi secara ekstrem dalam hal konsumsi makanan akibat mitos yang beredar.

Baca Juga  Pemkab Pulang Pisau Optimalkan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting

“Pasien tetap membutuhkan asupan nutrisi yang cukup selama menjalani terapi. Dukungan keluarga juga penting untuk menjaga kondisi psikologis pasien,” kata Daniel.

Setelah menjalani pengobatan, pasien lansia juga tetap memerlukan pemantauan rutin untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta efek samping terapi.

Daniel menegaskan, penanganan kanker pada lansia harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya berfokus pada memperpanjang usia.

“Tujuannya bukan sekadar memperpanjang hidup, tetapi memastikan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *