Malang — Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Desa Sanankerto dan Gubugklakah meluncurkan sistem digital inovatif bernama SADEWA DESA, untuk mendukung pengembangan desa wisata yang edukatif, rekreatif, dan berorientasi konservasi.
Sistem ini mengintegrasikan empat sub-sistem utama: konten edukasi wisata, animasi interaktif, tracking lokasi wisata, serta interaksi wisatawan, termasuk penilaian (rating) dan pelaporan kondisi darurat melalui QR Code. SADEWA DESA mendigitalisasi berbagai aset desa, mulai dari sumber daya alam, seni budaya, dolanan tradisional, hingga produk UMKM, menjadi konten menarik berupa teks, video, audio, gambar, dan animasi yang disajikan secara storytelling.
Peluncuran SADEWA DESA digelar di Desa Wisata Boonpring, Turen, dengan partisipasi sekitar 150 peserta dari berbagai daerah. Diberi dukungan dana dari LPDP dan Kementerian Pendidikan serta didukung Pemerintah Kabupaten Malang, sistem ini diterapkan sebagai pilot project pada 28 objek wisata di Sanankerto dan 46 di Gubugklakah.
Kepala Desa Sanankerto berharap inovasi ini memperkuat posisi desanya sebagai destinasi wisata digital sekaligus sarana edukasi bagi sekolah dan masyarakat. Kepala Dinas Pariwisata Kota Probolinggo juga menyatakan minat mengadopsi teknologi serupa untuk aset wisata sejarah di kotanya.

Ketua Ladesta menambahkan, SADEWA DESA diharapkan dapat mengembalikan kejayaan desa wisata dan menjadi pendorong utama pengembangan pariwisata edukatif, rekreatif, dan konservasi secara berkelanjutan.
“Inovasi ini berhasil memadukan teknologi digital dengan potensi budaya dan alam desa untuk menciptakan pengalaman wisata modern yang atraktif, edukatif, dan menguntungkan masyarakat lokal sebagai sumber ekonomi kreatif baru,” ungkap Ketua Ladesta.












