JAKARTA — Ketua Umum Gerakan Nusantara (Gentara), Zulfan Lindan, beberapa waktu lalu bertandang ke rumah Presiden RI ke-7 Joko Widodo di kediamannya di Sumber, Solo, Jawa Tengah. Pertemuan berlangsung sekitar dua jam.
Diskusi dalam pertemuan itu salah satunya terkait upaya Jokowi berkeliling ke sejumlah wilayah Indonesia.
“Upaya berkeliling ke daerah tidak boleh dimaknai sebagai upaya turun gunung untuk membenahi keadaan bangsa,” ujar Zulfan Lindan, Jumat (12/6/2026).
Menurut mantan anggota DPR RI ini, pemahaman tersebut keliru dan cenderung sengaja dibangun oleh pihak-pihak yang ingin mengait-ngaitkan setiap gerak langkah Jokowi dengan dinamika politik kekuasaan.
“Gentara adalah organisasi masyarakat lintas komunitas, lintas profesi, lintas generasi, dan lintas jaringan di tingkat nasional. Kami dikenal sebagai Ormas Relawan Super Tbk yang berbasis digital dan sedang dipersiapkan menjadi kekuatan sosial-politik yang mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka,” jelas Zulfan.
Dalam pertemuan itu, Zulfan menangkap satu hal yang sederhana namun mendalam: besarnya perhatian dan kecintaan Jokowi kepada rakyat Indonesia yang selama ini setia memberikan dukungan dan kasih sayang kepadanya.
Zulfan mengungkapkan, sejak masa jabatannya berakhir pada Oktober 2024, kediaman Jokowi di Solo hampir tak pernah sepi. Rakyat dari berbagai provinsi, profesi, dan latar belakang, bahkan dari pelosok negeri, datang hanya untuk bersalaman, berfoto, menyampaikan doa, serta mengucapkan terima kasih atas sepuluh tahun pengabdiannya.
“Kalau selama hampir dua tahun rakyat berbondong-bondong datang ke Solo menemui Pak Jokowi, maka sangat wajar hari ini ia ingin membalas silaturahmi tersebut dengan mendatangi rakyatnya secara langsung,” terangnya.
Zulfan menegaskan, hal ini bukan soal politik, bukan soal kekuasaan, melainkan soal hubungan batin antara seorang pemimpin dengan rakyat yang pernah dipimpinnya.
“Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi menyambut safari Jokowi khususnya di Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat. Rakyat bersiap menyambut dengan suka cita. Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pula gosip murahan yang memelintir makna. Ada yang buru-buru bilang Jokowi turun gunung seolah-olah negeri ini sedang kacau dan membutuhkan penyelamatan besar,” ungkapnya.
Menurut Zulfan, anggapan itu jauh dari kenyataan. Dalam kisah silat Mandarin klasik, turun gunung biasanya dilakukan oleh murid yang baru selesai menuntut ilmu atau seorang suhu yang turun untuk menyelesaikan urusan besar dunia persilatan.
“Jokowi bukan murid yang baru belajar, dan bukan pula seorang suhu yang turun untuk menyelesaikan konflik. Beliau adalah seorang pemimpin yang telah menyelesaikan tugas kepresidenannya selama sepuluh tahun dengan dedikasi dan tanggung jawab yang luar biasa,” cetus Zulfan.
Di usia yang masih relatif muda dan penuh energi, kata Zulfan, sangat wajar jika Jokowi memilih tetap aktif berinteraksi dengan masyarakat. Seorang pemimpin yang telah terbiasa bekerja untuk rakyat tentu akan merasa lebih bahagia berada di tengah-tengah mereka, daripada hanya berdiam diri.
“Masyarakat jangan melihat ini sebagai aktivitas politik. Lihatlah sebagai silaturahmi kebangsaan. Pak Jokowi ingin bertemu rakyat yang selama ini datang ke rumah beliau. Beliau ingin menyapa mereka, mendengar cerita mereka, melihat langsung perkembangan daerah, sekaligus menikmati keindahan Indonesia yang selama ini dibangun bersama seluruh rakyat,” kata Zulfan.
Bagi Zulfan, safari tersebut merupakan kesempatan bagi Jokowi untuk melihat secara langsung berbagai infrastruktur yang dibangun pada masa pemerintahannya.
Zulfan menilai Jokowi memahami keseimbangan itu dengan sangat baik. Karena itu, tidak ada alasan untuk mengaitkan safari ini dengan upaya cawe-cawe atau intervensi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Pemerintahan saat ini memiliki legitimasi yang kuat dan sedang menjalankan agenda pembangunan sesuai mandat rakyat,” tegasnya.
Zulfan mengatakan, Jokowi sangat menghormati pemerintahan Presiden Prabowo. Justru sebagai negarawan, beliau ingin menjaga persatuan dan memperkuat optimisme rakyat. Safari ini adalah silaturahmi kebangsaan, bukan intervensi politik.
“Bukankah silaturahmi merupakan anjuran mulia? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Jokowi hadir bukan karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” urainya.
Zulfan Lindan menegaskan, Jokowi hadir bukan untuk membenahi pemerintahan yang sedang berjalan. Jokowi hadir karena ingin membalas cinta dan perhatian rakyat yang selama ini datang menemuinya di Solo.
“Jokowi datang untuk menyapa, mendengar, dan menguatkan ikatan kebangsaan yang telah terjalin puluhan tahun. Itulah makna sesungguhnya dari safari kebangsaan. Jokowi bukan turun gunung, melainkan turun menyambung silaturahmi dengan rakyat Indonesia yang pernah beliau pimpin,” pungkas Zulfan Lindan.












