Banjarbaru – Aksi BEM se-Kalsel di kantor Setda Kalsel, Jumat (5/6) sore, tidak hanya diikuti puluhan mahasiswa. Warga Jalan Sidomulyo 1, Banjarbaru, juga ikut hadir.
Mereka datang buat menyuarakan sengketa lahan dengan Denzipur 8/GM. Lahan seluas 3,6 hektare itu sudah ditempati warga puluhan tahun. Warga bilang, konflik berkepanjangan ini bikin hidup mereka gak tenang.
Anggota Komisi III DPRD Kalsel, Sarwani, langsung menemui para pendemo. Ia mewakili Ketua DPRD H. Supian HK yang berhalangan hadir.
“Berbagai tuntutan mahasiswa jadi masukan penting, terutama soal sengketa lahan di Sidomulyo,” kata Sarwani usai aksi.
Ia berjanji bakal memfasilitasi komunikasi antara warga dan pihak Denzipur.
“Kami siap memfasilitasi agar persoalan ini selesai secara adil,” tegasnya.
Gubernur Kalsel H. Muhidin yang juga hadir ikut angkat bicara. Ia bilang, pemerintah provinsi tak bisa intervensi karena perkara sudah masuk pengadilan.
“Kita harus hormati proses hukum. Kami pernah kalah soal aset karena gak bisa tunjukin sertifikat asli,” ujar Muhidin.
Soal tuntutan mahasiswa bidang pendidikan, Muhidin mengakui kualitas sekolah di Kalsel masih tertinggal.
“Ke depan kita akan asesmen para guru, biar bisa imbangi standar daerah lain,” katanya.
Mengenai rencana stadion internasional, ia memastikan pembangunan masih mengikuti tahapan birokrasi yang panjang.
“Birokrasi sekarang beda. Semua harus clear, mulai dari persetujuan masyarakat sampai ganti rugi,” pungkasnya.
Suasana aksi berlangsung tertib. Massa perlahan bubar setelah dialog selesai.












