Jakarta — Peristiwa penyamaran sebagai pramugari yang melibatkan seorang perempuan bernama Nisya dan sempat viral di media sosial akhirnya diselesaikan tanpa proses hukum. Maskapai Batik Air memilih pendekatan persuasif setelah melakukan klarifikasi dan pemeriksaan internal.
Dalam penjelasannya kepada pihak maskapai, Nisya mengungkapkan bahwa tindakannya dipicu oleh pengalaman menjadi korban penipuan berkedok rekrutmen pramugari. Ia mengaku telah mengikuti tahapan yang diklaim sebagai seleksi resmi dan mengeluarkan sejumlah biaya, sebelum menyadari bahwa proses tersebut tidak sah.
“Saya ingin membahagiakan orang tua. Saya menyadari perbuatan ini keliru dan menyesalinya. Tidak ada niat untuk menipu atau merugikan siapa pun,” ujar Nisya dalam klarifikasinya.
Dorongan untuk memenuhi harapan keluarga membuat Nisya nekat berpura-pura menjadi pramugari, meski menyadari tindakannya melanggar aturan. Aksi tersebut kemudian menjadi sorotan publik setelah beredar luas di media sosial.
Setelah melakukan pendalaman, pihak maskapai memutuskan tidak membawa persoalan ini ke ranah pidana. Nisya diminta menandatangani surat pernyataan berisi komitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan tidak ditemukannya unsur niat jahat, tidak adanya kerugian materiil, serta tidak timbulnya risiko terhadap keselamatan penerbangan maupun penumpang.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat tentang maraknya penipuan berkedok rekrutmen kerja, khususnya di sektor penerbangan. Maskapai kembali mengimbau masyarakat agar memastikan setiap proses rekrutmen dilakukan melalui saluran resmi dan terverifikasi.
Nisya berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya. Ia berkomitmen untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab ke depan.
“Ini menjadi pelajaran besar bagi saya. Saya ingin melangkah dengan jujur dan sesuai aturan,” tuturnya.












