Surabaya, bacakabar — Ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai daerah di Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di Kota Surabaya, Selasa (28/4). Massa bergerak menuju Gedung DPRD Jawa Timur untuk menyuarakan tuntutan terkait tarif dan kebijakan aplikator.
Aksi dimulai sejak pukul 09.00 WIB dari kawasan Bundaran Waru. Para pengemudi melakukan konvoi melintasi sejumlah ruas utama, seperti Frontage Ahmad Yani, menuju kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Diskominfo Jatim, Polda Jatim, hingga berkumpul di depan DPRD Jatim di Jalan Indrapura.
Aksi tersebut sempat menyebabkan kepadatan lalu lintas di sejumlah titik. Aparat kepolisian mengerahkan ratusan personel untuk pengamanan serta menerapkan rekayasa lalu lintas guna mengurai kemacetan.
Dalam aksinya, para pengemudi yang tergabung dalam aliansi driver menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah dan perusahaan aplikator. Mereka menilai kebijakan tarif saat ini tidak berpihak kepada pengemudi dan justru menekan pendapatan.
Koordinator aksi menyebut ada beberapa tuntutan utama, di antaranya penolakan terhadap tarif murah, pemberian sanksi kepada aplikator yang melanggar regulasi, serta penghapusan program yang dinilai merugikan driver.
“Tarif yang berlaku saat ini tidak sebanding dengan biaya operasional di lapangan. Kami meminta penyesuaian yang adil sesuai aturan pemerintah,” ujar salah satu perwakilan massa.
Selain itu, para pengemudi juga meminta pemerintah memberikan perlindungan lebih jelas dalam hubungan kemitraan dengan aplikator, guna mencegah kebijakan sepihak.
Aksi berlangsung relatif tertib di bawah pengawalan aparat, meski sempat menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan utama Surabaya. Hingga siang hari, massa masih bertahan di depan gedung DPRD Jatim menunggu respons dari pihak terkait.
Demonstrasi ini menjadi salah satu aksi terbesar pengemudi ojol di Surabaya dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan driver di tengah kebijakan tarif yang dinilai belum berpihak.












