TERNATE — Aparat TNI membubarkan kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (9/5/2026) malam. Pembubaran dilakukan dengan alasan mengantisipasi potensi polemik dan sensitivitas isu sosial di masyarakat.
Informasi mengenai pembubaran tersebut dikutip dari laporan Detikcom, Sabtu (10/5/2026), yang memuat keterangan Komandan Kodim (Dandim) 1501/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi serta respons dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate.
Kegiatan nobar yang disertai diskusi itu digelar oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara bersama AJI Kota Ternate di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah.
Dandim 1501/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi mengatakan aparat memantau kegiatan tersebut setelah muncul penolakan di media sosial terhadap pemutaran film yang dinilai sebagian pihak berpotensi memicu kontroversi.
“Kami memonitor kegiatan ini. Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami melihat di media sosial banyak penolakan akan kegiatan film ini karena banyak yang menilai bersifat provokatif dari judulnya,” ujar Jani, seperti dikutip dari Detikcom.
Menurut dia, penghentian pemutaran film dilakukan dengan mempertimbangkan sensitivitas isu sosial dan potensi gesekan di Maluku Utara yang dinilai rentan dipolitisasi.
Meski demikian, aparat disebut tetap mempersilakan agenda diskusi yang telah dijadwalkan untuk dilanjutkan tanpa pemutaran film.
Sementara itu, Ketua AJI Ternate Yunita Kaunar mengecam tindakan pembubaran tersebut. Ia menilai langkah aparat berpotensi membatasi kebebasan berekspresi dan hak masyarakat memperoleh informasi.
“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,” kata Yunita,
Yunita juga menyoroti kehadiran aparat sejak awal kegiatan, termasuk tindakan mendokumentasikan panitia dan peserta yang disebut menimbulkan tekanan psikologis.
Menurutnya, alasan potensi konflik tidak dapat dijadikan dasar penghentian acara karena kegiatan berlangsung damai dan disertai forum diskusi terbuka.
“Kalau setiap karya kritis dianggap ancaman lalu dibungkam, maka demokrasi sedang berada dalam situasi berbahaya. Negara tidak boleh takut terhadap diskusi dan film dokumenter,” ujarnya.
Film Pesta Babi merupakan hasil kolaborasi Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru. Film tersebut mengangkat isu deforestasi dan proyek strategis nasional di Papua, termasuk sorotan terhadap keterlibatan militer dalam agenda negara.












