PELAIHARI – Pemerintah Kabupaten Tanah Laut menemukan sinyal serius terkait kesehatan mental pelajar. Hasil skrining terhadap ribuan siswa menunjukkan satu dari lima anak usia sekolah terindikasi mengalami gangguan emosional.
Dari 6.284 siswa usia 10–17 tahun yang menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa, sebanyak 1.281 siswa atau 20,39 persen menunjukkan gejala kecemasan hingga depresi. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian nasional terhadap isu kesehatan mental remaja.
Kepala Dinas Kesehatan Tanah Laut, dr. Hj. Isna Farida, menyebut hasil skrining ini menjadi peringatan dini bagi sekolah dan orang tua. Data menunjukkan 668 siswa (10,67 persen) mengalami depresi ringan, sementara 315 siswa (5,03 persen) masuk kategori depresi berat.
Gejala kecemasan juga cukup tinggi. Sebanyak 587 siswa (9,37 persen) terindikasi cemas ringan dan 299 siswa (4,77 persen) mengalami kecemasan berat.
Meski mayoritas siswa tidak menunjukkan gejala signifikan, angka tersebut dinilai cukup besar untuk memerlukan intervensi berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Tak hanya persoalan mental, skrining kesehatan yang menjangkau puluhan ribu pelajar di Tanah Laut juga mengungkap persoalan fisik yang tak kalah serius.
Masalah paling dominan adalah karies gigi. Dari 37.147 siswa yang diperiksa, sebanyak 28.269 siswa atau 76,1 persen mengalami gigi berlubang. Selain itu, 71,74 persen siswa tercatat kurang aktivitas fisik, dan lebih dari separuh peserta tes kebugaran berada dalam kategori kurang.
Temuan lain yang mencolok adalah tekanan darah. Dari 34.314 siswa yang diperiksa, 7.224 siswa (21,05 persen) terindikasi hipertensi dan 2.153 siswa (6,27 persen) prahipertensi. Pada aspek anemia, lebih dari 38 persen dari 2.964 siswa yang diperiksa khusus mengalami anemia dengan tingkat keparahan berbeda.
Dinas Kesehatan menilai kondisi ini menunjukkan persoalan kesehatan pelajar tidak lagi sebatas gizi atau penyakit menular, tetapi juga mulai menyentuh penyakit tidak menular dan pola hidup.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes bersama Dinas Pendidikan menyiapkan pendampingan melalui UKS, puskesmas, hingga layanan psikolog bagi siswa yang terindikasi memiliki gangguan fisik maupun mental.
Edukasi juga diperkuat melalui kampanye aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, gerakan sikat gigi massal, edukasi gizi seimbang, pencegahan anemia pada remaja putri, serta penyuluhan manajemen stres.
Pemerintah daerah menargetkan deteksi dini dilakukan secara berkala dengan melibatkan sekolah dan orang tua agar hasil skrining tidak berhenti pada pendataan, tetapi berlanjut pada penanganan konkret.













Melihat dari hasil yg ada saya sangat prihatin dengan keadaan ini, berharap segera ada tindak lanjut untuk menganinya. terutama masalah pola pikir untuk hidup sehat,
program MBG sebenarnya sangat signifikan bila di sambut dengan pola pikir yang ingin sehat juga.
yang harus berperan penting adalah keluarga, karena di sana lah polah pikir anak akan terbentuk.