Tanah Bumbu — Ratusan warga memadati halaman kediaman Ketua DPRD Tanah Bumbu, Andrean Atma Maulani, di Jalan Nusa Indah, Desa Plajau Mulia, Rabu (03/12/2025). Satu per satu kursi terisi cepat, suasana menghangat, dan dialog antara warga serta wakil rakyat mengalir tanpa sekat.
Di tengah kerumunan, Andrean berdiri menyapa setiap warga yang datang. Ia menegaskan bahwa reses bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan salah satu pintu paling penting untuk menghubungkan suara publik dengan meja kebijakan.
“Semua usulan Bapak Ibu akan kami tampung sebagai pokok pikiran DPRD. Dari sinilah jalannya pembangunan dimulai, dari suara masyarakat,” ujarnya di hadapan warga yang menyimak penuh perhatian.
Hadir pula sejumlah kepala desa—Plajau Mulia, Baroqah, dan Bersujud—yang memberi isyarat kuat bahwa reses kali ini menjadi momentum besar bagi warga Kecamatan Simpang Empat. Aspirasi mengalir dari berbagai sisi, dari kebutuhan kecil yang sehari-hari dirasakan hingga aspirasi jangka panjang yang menentukan masa depan desa.
Warga meminta perbaikan jalan lingkungan, pembangunan mushola, lampu PJU yang mati berbulan-bulan, paving block gang, hingga drainase yang kerap mengakibatkan genangan. Ada pula harapan besar terkait kelanjutan pembangunan Ruang Kelas Baru, pagar, dan halaman SDN Kampung Baru 3.
Andrean menanggapi satu per satu. Ia memastikan bahwa khusus untuk SDN Kampung Baru 3, kelanjutan pembangunan sudah ia sampaikan langsung ke Dinas Pendidikan dan sudah dianggarkan.
Sementara aspirasi lainnya akan dibawa ke pemerintah daerah melalui proses formal di DPRD.
Di sela dialog, beberapa warga menyampaikan harapan agar persoalan klasik seperti jalan yang rusak dan penerangan jalan dapat segera diselesaikan. Bagi banyak warga, persoalan itu lebih dari sekadar infrastruktur—itu menyangkut keselamatan, kenyamanan, dan akses aktivitas harian.
“Semoga aspirasi Bapak Ibu tidak berhenti di sini. Kami akan perjuangkan agar pemerintah daerah memberi perhatian,” tutup Andrean.
Pertemuan berakhir dengan suasana hangat. Warga tampak enggan pulang cepat, menunjukkan betapa besarnya harapan yang menitip pada pertemuan sore itu—sebuah momen ketika suara masyarakat benar-benar mendapat ruang.












