Aceh Tamiang — Sebuah video singkat di media sosial menjadi titik awal hadirnya bantuan kemanusiaan ke Kampung Sunting, wilayah terpencil di Kabupaten Aceh Tamiang yang terisolasi pascabanjir besar. Akses yang rusak parah membuat kampung ini nyaris luput dari jangkauan bantuan.
Kampung Sunting berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Aceh Tamiang. Dalam kondisi normal, jarak tersebut dapat ditempuh kurang dari satu jam. Namun pascabencana, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu hingga tiga jam menggunakan kendaraan, dilanjutkan dengan berjalan kaki selama hampir dua jam melewati jalur berlumpur dan licin.
Video yang viral tersebut menampilkan Zulkarnain (37), warga Kampung Sunting dengan keterbatasan fisik, yang terlihat memilah puing-puing rumahnya yang rata dengan tanah akibat banjir. Tayangan itu menggugah Relawan Pertamina Peduli yang saat itu bertugas di Posko Aceh Tamiang untuk menelusuri lokasi kampung yang belum tersentuh bantuan.
Tim relawan yang berangkat terdiri dari empat relawan pekerja Pertamina serta tiga tenaga medis—dokter dan perawat—yang menjalankan misi kemanusiaan dengan menembus keterbatasan akses menuju Kampung Sunting.
Setibanya di lokasi, tim mendapati kondisi warga yang memprihatinkan. Minimnya akses membuat Kampung Sunting belum menerima layanan medis memadai. Sejumlah warga masih mengenakan pakaian yang sama sejak bencana terjadi, sementara obat-obatan dan bantuan kesehatan nyaris tidak tersedia.
“Kami tetap datang karena di sini memang belum ada bantuan medis sama sekali. Banyak warga membutuhkan penanganan, termasuk ibu hamil tujuh bulan dan para lansia,” ujar dr. Haryati Victoria, dokter dari RS Pertamina Prabumulih yang tergabung dalam tim relawan, Sabtu (20/12/2025).
Salah satu pasien yang ditangani adalah Ishak (76), seorang lansia yang mengalami sesak napas dan cepat lelah meski hanya beraktivitas ringan. Dari pemeriksaan awal, tim medis menduga adanya pembengkakan jantung dan kemungkinan cairan di paru-paru.
“Dengan keterbatasan peralatan dan obat yang kami bawa, beliau akhirnya kami evakuasi menggunakan sepeda motor menuju ambulans dan dirujuk ke RSUD Langsa,” jelas dr. Haryati.
Kehadiran Relawan Pertamina Peduli disambut hangat oleh warga. Selain pemeriksaan kesehatan, tim juga membawa obat-obatan, bantuan bahan pokok, serta makanan siap saji. Meski jumlah bantuan terbatas karena harus dipanggul berjalan kaki, kehadiran relawan memberikan harapan baru bagi warga.
Relawan juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak melalui permainan sederhana dan kuis interaktif. Anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut mendapatkan tambahan asupan susu untuk membantu pemulihan fisik dan psikologis pascabencana.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan komitmen Pertamina Group untuk menjangkau wilayah-wilayah terdampak bencana, termasuk daerah yang sulit diakses.
“Pertamina Peduli berupaya hadir langsung di tengah masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk wilayah terisolasi. Kami percaya kehadiran relawan, tenaga medis, dan bantuan kemanusiaan dapat meringankan beban warga serta membantu proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.












