Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Surabaya

Polemik Sound Horeg, Akademisi Minta Fatwa MUI Tak Abaikan Nilai Budaya

×

Polemik Sound Horeg, Akademisi Minta Fatwa MUI Tak Abaikan Nilai Budaya

Sebarkan artikel ini
M. Febriyanto Firman Wijaya, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, menanggapi polemik fatwa haram sound horeg, Senin (7/7/2025).
Satu set sound system "horeg" terpasang di atas bak truk, siap digunakan untuk hiburan keliling yang kerap menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. (Foto Istimewa)

Surabaya, bacakabar – Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, M. Febriyanto Firman Wijaya, mengkritik fatwa haram terhadap sound horeg yang dikeluarkan salah satu pondok pesantren di Pasuruan dan didukung Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Ia meminta MUI tidak hanya memakai pendekatan normatif, tetapi juga memperhatikan aspirasi masyarakat dan dinamika budaya.

“Kita harus menghindari pendekatan ekstrem. Solusi terbaik adalah dialog antara pesantren, MUI, dan masyarakat, agar tak terjadi perpecahan,” kata Firman, Senin (7/7/2025).

Firman menilai polemik sound horeg mencerminkan tantangan masyarakat majemuk. Karena itu, ia meminta semua pihak mencari titik temu antara kebebasan berekspresi, nilai agama, dan harmoni sosial.

“Sound horeg bukan sekadar soal bising. Ia juga bagian dari ekspresi budaya dan seni masyarakat. Pelarangan tanpa pertimbangan budaya bisa jadi keputusan yang tidak seimbang,” tegasnya.

Firman menegaskan, dalam kajian hukum Islam, prinsip dasarnya adalah bahwa semua hal boleh sampai ada dalil kuat yang melarang.

“Pertanyaannya: adakah dalil syar’i yang benar-benar kuat dan eksplisit untuk mengharamkan sound horeg dalam konteks hiburan publik?” ujarnya.

Firman juga mengingatkan potensi dampak sosial dari fatwa tersebut. Menurutnya, pelarangan sepihak bisa memicu ketegangan sosial dan menimbulkan resistensi.

“Butuh pendekatan normatif sekaligus kontekstual dan humanis. Jangan sampai fatwa justru menciptakan jarak antara nilai agama dan budaya. Keduanya bisa bersinergi,” tutupnya.

Baca Juga  Tradisi dan TNI Menyatu dalam Aruh Bawanang Desa Hinas Kiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *