MALANG – Dua ekor macan tutul jawa berhasil terdeteksi masih ada di kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Masyarakat diharapkan tidak perlu merasa khawatir. Keberadaan satwa yang dilindungi ini berperan penting sebagai pengendali populasi dalam rantai makanan.
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) telah terpantau melalui kamera yang dipasang oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak tahun 2013. Keduanya memiliki fisik yang didominasi oleh warna kulit dan bulu yang lebih gelap, sehingga sering disebut sebagai macan kumbang.
Penggunaan kamera pengintai menjadi salah satu metode untuk mendeteksi keberadaan macan tutul. Kamera tersebut diletakkan di titik-titik strategis yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan macan tutul, seperti feses, bulu, atau jejak kaki. Tujuannya adalah untuk memverifikasi keberadaan satwa tersebut secara langsung.
“Dari pemantauan kamera jebak di TNBTS sampai Juni 2024, estimasi kasar jumlah macan tutul jawa di kawasan ini adalah 24 individu. Namun, ini bukanlah hasil yang ilmiah, sehingga kebenarannya masih perlu diverifikasi,” ujar Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Gunawan, pada Jumat (24/1/2025).

Ia menyebut sebanyak 40 kamera intai dipasang dalam area seluas 4 kilometer persegi (2 x 2 kilometer) selama minimal 90 hari. Hasilnya, terpantau dua ekor macan tutul jawa dengan warna gelap.
Dengan adanya macan tutul tersebut, Rudijanta berharap masyarakat tidak merasa cemas. Meskipun macan tutul berada di posisi puncak dalam rantai makanan, hewan ini dikenal memiliki sifat menghindar dari manusia ataupun permukiman.
“Karakteristik macan tutul jawa adalah lebih menghindari manusia. Jadi, tidak perlu khawatir. Saya yakin kondisi habitat dan keberadaan mangsanya di sini terjaga dengan baik. Selama itu ada, mereka tidak akan mengganggu manusia, bahkan biasanya mereka akan menghindari berjumpa dengan manusia,” tutur Rudijanta.
Seno Pramudita, Kepala Bidang Teknis di TNBTS, menambahkan bahwa selain macan tutul jawa, TNBTS juga dihuni oleh satwa endemik lainnya, seperti elang jawa dan lutung jawa.
“Elang jawa telah terpantau di beberapa lokasi. Tiap tahun mereka juga beranak. Dalam pendataan tahun 2022, tercatat ada 37 individu elang jawa di kawasan TNBTS,” ungkap Seno.
Sedangkan untuk lutung jawa, menurut pengamatan di beberapa lokasi, memiliki karakteristik yang unik. “Biasanya, lutung jawa memiliki warna oranye saat kecil dan berubah hitam saat dewasa. Namun, di sini, warna lutung jawa tetap oranye kekuningan dari kecil hingga dewasa,” jelas Seno.
Penulis: Agung












