KOTABARU — Lomba bercerita tingkat SMP di Kotabaru tidak hanya menjadi ajang siswa tampil di depan umum. Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kotabaru ini juga menjadi salah satu cara mengenalkan kembali buku dan cerita kepada pelajar di tengah penggunaan telepon genggam yang semakin lekat dengan keseharian mereka.
Lomba berlangsung selama dua hari, 20–21 Oktober 2026, di Aula Masjid Apung Siring Laut, Kotabaru. Para peserta mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuan bercerita, kreativitas dan kepercayaan diri.
Guru Seni Budaya SMPN 4 Kotabaru, Fitri Lutfiana, menilai kegiatan tersebut memberi manfaat bagi siswa, terutama dalam melatih keberanian dan kemampuan mengelola diri ketika tampil di depan orang lain.
Menurut Fitri, lomba bercerita juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk kembali berinteraksi dengan buku sekaligus mengenal berbagai cerita dari Indonesia.
“Dengan adanya lomba ini, anak-anak diajak kembali untuk berliterasi dan menambah pengetahuan tentang kisah-kisah yang ada di Indonesia,” ungkapnya.
Fitri berharap kegiatan tersebut dapat terus digelar setiap tahun. Ia juga mendorong adanya lebih banyak kegiatan literasi, pembaruan koleksi buku yang lebih menarik serta pengembangan layanan perpustakaan digital.
Kepala Dispersip Kabupaten Kotabaru M. Fuad Fahruddin mengatakan penguatan budaya literasi menjadi salah satu perhatian Bupati Kotabaru H. Muhammad Rusli.
Menurut Fuad, kegiatan literasi tidak harus berlangsung di sekolah atau perpustakaan. Ruang publik yang banyak digunakan masyarakat, terutama anak muda, juga dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan akses terhadap bahan bacaan.
Dispersip Kotabaru salah satunya mengembangkan pojok baca melalui kemitraan dengan pelaku usaha di tempat berkumpul anak muda, seperti kafe. Koleksi yang disediakan disesuaikan dengan minat pembaca, mulai dari novel, buku pengembangan diri hingga buku keterampilan praktis.
Program tersebut dikembangkan dalam kerangka Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), yang menempatkan perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga ruang untuk belajar, berbagi pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kalau kita sayang kepada generasi yang akan datang, maka generasi yang ada sekarang harus kita persiapkan agar mampu bertahan dan berkembang sesuai zamannya. Salah satunya melalui penguatan budaya literasi,” ujar Fuad.












