Meulaboh — Banjir bandang hebat melanda Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, sejak Rabu (26/11/2025), meninggalkan kerusakan besar di wilayah pegunungan tersebut. Akses jalan terputus, aliran listrik padam, jaringan telekomunikasi lumpuh, dan puluhan rumah warga hilang terseret arus.
Di antara rumah yang hanyut, dua di antaranya milik wartawan yang tergabung dalam Sekber Wartawan Indonesia (SWI).
Menurut laporan Badan Meteorologi, banjir bandang dipicu hujan ekstrem berkepanjangan yang memicu luapan sungai dan membawa material lumpur, batu, serta batang pohon. Arus deras langsung menghantam permukiman yang berada di bantaran sungai tanpa memberi waktu bagi warga menyelamatkan diri.
Dua rumah wartawan yang dinyatakan hilang total adalah:
Rumah milik Banta Sulaiman, wartawan Gajahputihnews.com, yang ditempati bersama Rusli (50), Rosmania (40), dan Hayaton (20).
Rumah milik Samsuar, wartawan Meuligoeberita.com, yang dihuni bersama orang tuanya, Basyah (49) dan Siti (40).
Kedua keluarga kini mengungsi bersama lebih dari seribu warga lainnya di sejumlah posko sementara.
Saat ditemui di tenda pengungsian pada Sabtu (29/11/2025), Banta Sulaiman—yang juga Wakil Ketua SWI Aceh Barat—mengaku masih terpukul dengan musibah ini.
“Air datang sangat cepat. Kami hanya sempat menyelamatkan diri. Rumah kami hilang total, kerugian bisa ratusan juta,” ujarnya.
Selain kehilangan rumah, Banta juga kehilangan kebun seluas satu hektare yang kini berubah menjadi aliran sungai baru akibat derasnya material banjir.
Samsurdi, Humas SWI Aceh Barat, juga menyampaikan hal serupa.
“Kami sekeluarga selamat, tapi rumah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa,” katanya.
Hingga hari ini, akses menuju beberapa desa masih terisolasi. Jembatan penghubung rusak berat dan bagian badan jalan tergerus longsor, menyulitkan distribusi logistik. Warga menggantungkan kebutuhan makan dari dapur umum darurat yang dikelola relawan dan warga.
Para pengungsi berharap pemerintah mempercepat pendataan dan penanganan darurat, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
“Kami butuh perhatian segera. Banyak warga kehilangan segalanya,” kata Banta.
Upaya pembukaan akses masih dilakukan TNI-Polri, BPBD Nagan Raya, dan relawan dengan alat berat seadanya. Cuaca belum stabil dan potensi banjir susulan masih menjadi ancaman.
Banjir bandang ini disebut sebagai salah satu bencana terbesar yang melanda Kabupaten Nagan Raya sepanjang 2025 dan meninggalkan dampak fisik, material, serta psikologis yang mendalam bagi warga Beutong Ateuh Banggalang.












