Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Kesehatan

RS Bhayangkara DIY Hadirkan Klinik Stem Cell

×

RS Bhayangkara DIY Hadirkan Klinik Stem Cell

Sebarkan artikel ini
Kabid Dokkes Polda DIY Kombes Pol dr Fajar Amansyah SpPD saat menjelaskan layanan Klinik Stem Cell RS Bhayangkara DIY
Kabid Dokkes Polda DIY Kombes Pol. dr. Fajar Amansyah, Sp.PD, menjelaskan layanan Klinik Stem Cell di RS Bhayangkara DIY sebagai terobosan medis dalam penanganan penyakit degeneratif dan kanker.

YOGYAKARTA — Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY resmi menghadirkan layanan kesehatan berbasis teknologi mutakhir melalui pembukaan Klinik Stem Cell (Sel Punca). Layanan ini menjadi terobosan dalam penanganan penyakit degeneratif dan keganasan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda DIY, Kombes Pol dr. Fajar Amansyah, Sp.PD, mengatakan RS Bhayangkara DIY memfokuskan terapi sel punca untuk menangani penyakit degeneratif yang kini mendominasi pola penyakit di Indonesia.

“Penyakit akibat faktor usia seperti diabetes melitus, stroke, gagal ginjal, penyakit jantung, hingga gangguan hati akan ditangani dengan metode sel punca,” ujar Fajar.

Menurutnya, teknologi stem cell diharapkan mampu meregenerasi sel tubuh yang mengalami kerusakan, dengan mengubah proses degeneratif menjadi regeneratif sehingga penyakit dapat dikendalikan secara lebih optimal.

Terapi Sel Punca untuk Pasien Kanker

Selain penyakit degeneratif, Klinik Stem Cell RS Bhayangkara DIY juga memperkenalkan pendekatan baru dalam penanganan kanker dan penyakit keganasan. Tim medis akan mengombinasikan terapi standar—seperti kemoterapi, radioterapi, dan targeted therapy—dengan penggunaan sel punca.

RS Bhayangkara DIY akan memanfaatkan teknologi Cytotoxic T-Lymphocyte (CTL) yang diolah dari darah pasien sendiri. Teknologi ini memungkinkan terapi presisi, di mana sel imun diarahkan secara selektif untuk mengejar dan menghancurkan sel kanker.

“Keunggulan metode ini adalah menekan efek samping berat yang sering muncul pada kemoterapi, seperti rambut rontok, mual, muntah, hingga penurunan kadar hemoglobin,” jelas Fajar.

Ia menegaskan, terapi sel punca tidak menggantikan metode pengobatan yang sudah ada, melainkan memperkuatnya.

“Kami tidak menghilangkan terapi standar. Untuk pasien yang belum pernah menjalani kemoterapi, kami akan menginisiasi pengobatan dengan kombinasi terapi sel punca,” katanya.

Biaya dan Cakupan Asuransi

Baca Juga  Pj Sekda Tala Resmi Buka Germas Award 2024

Terkait pembiayaan, Fajar mengakui teknologi sel punca masih tergolong mahal dan mengacu pada katalog biaya umum, meski tetap terbuka untuk pembahasan lebih lanjut. Saat ini, terapi sel punca juga belum tercakup dalam layanan BPJS Kesehatan.

“Salah satu tantangan memang pembiayaan karena cakupannya masih terbatas. Kami berharap ke depan terapi sel punca bisa mendapat dukungan dari sistem asuransi kesehatan nasional,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *