SURABAYA – Harapan ribuan keluarga berpenghasilan rendah di Jawa Timur kian terbuka. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait atau akrab disapa Ara, memastikan pembangunan 14 ribu rumah subsidi di wilayah ini terus dikebut sebagai bagian dari upaya pemerataan hunian layak bagi masyarakat.
Kabar baiknya, pemerintah juga resmi menggulirkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan dengan nilai fantastis mencapai Rp130 triliun secara nasional. Program ini menjadi tonggak baru di sektor perumahan Indonesia — tak hanya membantu masyarakat memiliki rumah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dari bawah.
“Dari pembangunan rumah, banyak yang ikut merasakan dampaknya — mulai dari tukang, pedagang makanan, hingga toko bangunan kecil. Semua ikut bergerak,” ujar Ara saat mengunjungi Kantor REI Jawa Timur, Kamis (16/10/2025).
Dari total dana KUR nasional, sekitar Rp18 triliun ditargetkan terserap di Jawa Timur. Menurut Ara, setiap proyek rumah subsidi mampu membuka lima lapangan kerja langsung dan menggerakkan ekonomi di tingkat lokal. Dengan target 350 ribu unit rumah subsidi secara nasional tahun ini, program ini berpotensi menciptakan lebih dari 1,6 juta lapangan kerja di seluruh Indonesia.
“Efek ekonominya luar biasa. Masyarakat yang sebelumnya sulit dapat rumah kini terbantu, sementara ekonomi rakyat juga ikut hidup,” kata Ara. Ia menegaskan, kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto benar-benar berpihak pada masyarakat kecil. “BPHTB gratis, PBG gratis, bunga KUR ringan — semua ini demi meringankan beban rakyat dan memberi ruang tumbuh bagi pelaku UMKM sektor perumahan,” tambahnya.
Ketua REI Jawa Timur, Mochamad Ilyas, menyambut langkah pemerintah ini sebagai peluang besar bagi pengembang kecil. “Satu perusahaan bisa dapat plafon KUR hingga Rp5 miliar dan bisa diputar lagi. Sudah lebih dari 170 pengembang siap ikut, total kebutuhannya mencapai Rp187 miliar,” jelasnya.
Ilyas menambahkan, bunga KUR yang hanya 6 persen jauh lebih ringan dibanding pinjaman komersial yang bisa menembus 11 persen. “Dengan bunga serendah itu, pengembang kecil bisa lebih leluasa membangun rumah rakyat. Ini bukan hanya soal properti, tapi tentang keberlanjutan ekonomi daerah,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan agar setiap pembangunan rumah tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga gerakan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Program KUR Perumahan pun dirancang untuk membangkitkan ekonomi lokal — dari penyedia bahan bangunan hingga warung di sekitar proyek. Dengan dukungan pembiayaan ringan, regulasi yang berpihak, dan semangat gotong royong antara pemerintah dan pelaku usaha, sektor perumahan di Jawa Timur kini bersiap menjadi motor baru penggerak ekonomi rakyat.
“Membangun rumah bukan sekadar menyediakan tempat tinggal, tapi juga membangun harapan dan kesejahteraan bagi jutaan keluarga Indonesia,” tutup Maruarar.












