KOTABARU – Ribuan warga dan wisatawan memadati perairan Gusung Balienteang, Kabupaten Kotabaru, Minggu (26/7/2026), untuk menyaksikan Selamatan Leut, ritual adat masyarakat Suku Bajau Samah yang menjadi puncak Festival Budaya Saijaan 2026.
Sejak pagi, ratusan kapal nelayan mengangkut pemangku adat, masyarakat, seniman, hingga wisatawan menuju lokasi pelaksanaan ritual di tengah perairan dangkal. Prosesi berlangsung di bawah pengamanan personel Lanal Kotabaru, Satpolairud, Dinas Perhubungan, dan BPBD Kabupaten Kotabaru.
Dalam tradisi Suku Bajau Samah, Selamatan Leut merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil laut sekaligus doa memohon keselamatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.
Prosesi dipimpin Tokoh Spiritual (Sandro) Suku Bajau Samah, Hamdani. Setelah memanjatkan doa-doa adat, ia menancapkan bambu adat (anceak) di kawasan gusung sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Usai prosesi selesai, ratusan warga langsung turun ke laut. Mereka mengambil air di sekitar lokasi penancapan menggunakan botol, jeriken kecil, maupun telapak tangan.
Sebagian pengunjung mengaku merasakan air di sekitar lokasi ritual tidak seasin air laut pada umumnya. Namun, ada pula pengunjung yang menyebut rasa air tetap asin.
Menanggapi perbedaan pengalaman tersebut, Hamdani mengatakan hal itu merupakan bagian dari keyakinan masing-masing.
“Mengenai perubahan rasa air, itu kembali kepada kepercayaan masing-masing. Bagi kami masyarakat Suku Bajau Samah, air ini merupakan perantara keberkahan dari Sang Maha Kuasa,” ujarnya.
Menurut Hamdani, makna utama Selamatan Leut bukanlah pada rasa air laut, melainkan sebagai wujud syukur masyarakat pesisir atas rezeki yang diperoleh dari laut serta doa agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan saat melaut.












