PALANGKA RAYA – Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Kalimantan Tengah menyoroti dampak konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap stabilitas global serta kepentingan nasional Indonesia.
Isu tersebut dibahas dalam webinar nasional bertajuk “Dampak Geopolitik Konflik Amerika–Israel–Iran: Strategi dan Implikasi bagi Indonesia” yang digelar secara daring, Rabu (11/3/2026).
Webinar menghadirkan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono bersama sejumlah akademisi dan praktisi hubungan internasional.
Dalam paparannya, Dave menilai dinamika geopolitik global saat ini menunjukkan fenomena “weaponizing everything”, yakni kondisi ketika berbagai instrumen internasional seperti ekonomi, teknologi, dan politik digunakan sebagai alat tekanan geopolitik.
Menurutnya, persaingan kekuatan global saat ini tidak lagi terbatas pada domain militer, tetapi juga merambah sektor ekonomi, teknologi, dan pengaruh geopolitik yang lebih luas.
Ia menilai Indonesia perlu membaca perubahan tersebut secara strategis agar mampu menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan tatanan global.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma menegaskan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik global harus direspons dengan komitmen terhadap perdamaian dunia.
Menurutnya, dialog, solidaritas kemanusiaan, dan kerja sama internasional tetap menjadi kunci menjaga stabilitas global.
Diskusi tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, di antaranya Eduardo Edwin Ramda, Jeanne Francoise, Agus Haryanto, dan RD Andreas Fernandez, yang memberikan perspektif multidisipliner terkait konflik global dan implikasinya bagi Indonesia.
Eduardo menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global, termasuk melalui penguatan tata kelola fiskal, kemandirian daerah, serta komunikasi publik berbasis data.
Sementara itu, Jeanne Francoise menyoroti pentingnya memahami defense heritage atau warisan strategi pertahanan suatu negara dalam membaca perilaku geopolitik negara-negara yang terlibat konflik.
Dari perspektif hubungan internasional, Agus Haryanto menilai Indonesia perlu berhati-hati menentukan posisi di tengah dinamika balance of power global.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki tradisi diplomasi damai yang perlu terus diperkuat dalam upaya menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Adapun RD Andreas Fernandez menekankan bahwa resolusi konflik tidak hanya membutuhkan pendekatan politik dan diplomasi, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua Pemuda Katolik Komda Kalimantan Tengah Dorothea Sthallhani Jasi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi geopolitik generasi muda.
Ia berharap diskusi tersebut dapat memperkaya perspektif strategis masyarakat dalam membaca dinamika geopolitik global serta kaitannya dengan kepentingan Indonesia di bidang pertahanan, ekonomi, dan stabilitas nasional.












