Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Cirebon

Si Nona Cirebon, Masjid Unik Tanpa Tiang Tengah

×

Si Nona Cirebon, Masjid Unik Tanpa Tiang Tengah

Sebarkan artikel ini
Penampakan tampak depan Masjid Si Nona Baiturrahman Sukadana di Cirebon.
Tampak depan Masjid Baiturrahman atau Masjid Si Nona di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, yang dikenal sebagai bangunan bersejarah dengan arsitektur perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

CIREBON – Unik dan sarat sejarah. Itulah kesan pertama saat menjejakkan kaki di Masjid Baiturrahman Sukadana yang berada di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon.

Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Si Nona ini berdiri kokoh tanpa tiang penyangga di bagian tengah. Di dalamnya bahkan masih tersimpan gentong wudhu berusia lebih dari satu abad yang menjadi saksi perjalanan panjang tempat ibadah tersebut.

Bangunan tua ini bukan sekadar tempat ibadah. Masjid Baiturrahman juga menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di wilayah Cirebon sekaligus simbol akulturasi budaya yang harmonis.

Pengurus DKM Baiturrahman, Cahyadi, menuturkan masjid tersebut merupakan hibah dari seorang tokoh keturunan Tionghoa yang memiliki pabrik gula di wilayah tersebut.

“Masjid Baiturrahman atau yang dikenal juga sebagai Masjid Si Nona merupakan hibah dari Mayor Jenderal Tan Sin Hi. Masjid ini didirikan atas prakarsa Raden Mas Setiapraja pada tahun 1338 Hijriah,” ujar Cahyadi saat ditemui wartawan, Rabu (4/3/2026).

Masjid yang dibangun sekitar tahun 1919 itu awalnya diperuntukkan bagi para buruh pabrik gula Leuweung Gajah agar memiliki tempat ibadah yang layak.

Pembangunannya diprakarsai oleh tokoh pergerakan Raden Mas Setiapraja dan mendapat dukungan dari Mayor Tan Sin Hi.
Dari sisi arsitektur, Masjid Si Nona memiliki keunikan tersendiri. Bangunannya memadukan tiga budaya sekaligus, yakni Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

“Gaya arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa, Eropa, serta kebudayaan Indonesia pada zaman Wali Songo,” jelas Cahyadi.

Perpaduan budaya tersebut terlihat dari lantai tegel bermotif bunga khas Eropa, ventilasi udara dengan sentuhan ornamen Tionghoa, serta tata ruang yang sarat filosofi Islam Nusantara.

Di bagian dalam masjid terdapat sembilan pintu masuk yang terbuat dari kayu jati. Jumlah pintu tersebut memiliki makna filosofis.

Baca Juga  WikenFes 2025 Guncang Cirebon, Pertamina Hadirkan Musik, Promo Digital, dan Bazaar UMKM

“Di dalam masjid ada sembilan pintu yang melambangkan sembilan Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa,” katanya.

Keunikan lain yang jarang ditemui adalah ruang utama masjid yang tidak memiliki tiang penyangga di tengah, sehingga terlihat luas dan lapang.

Selain itu, sebuah gentong antik berbentuk padasan yang dahulu digunakan sebagai tempat penampungan air wudhu masih tersimpan dan menjadi ciri khas bangunan bersejarah tersebut.

Dari pantauan di lokasi, masjid tampak didominasi warna putih dengan aksen kuning dan oranye di bagian pilar. Terasnya bersih dengan balustrade kayu berwarna cokelat kekuningan yang memperkuat kesan klasik namun tetap terawat.

Kini, Masjid Si Nona telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Meski usianya telah melampaui satu abad, aktivitas ibadah dan kegiatan sosial masyarakat masih berlangsung aktif di dalamnya.

Bagi warga Desa Sukadana, masjid ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga simbol toleransi lintas budaya yang telah tumbuh sejak era kolonial dan terus dijaga hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *