Baghdad – Pemerintah Irak menetapkan tiga hari masa berkabung nasional menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Juru Bicara Pemerintah Irak, Bassem Al-Awadi, menyampaikan belasungkawa resmi kepada rakyat Iran dan umat Islam dunia atas wafatnya tokoh tersebut.
“Dengan kesedihan mendalam, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran dan seluruh umat Islam atas kemartiran Ayatollah Sayyid Ali al-Husseini al-Khamenei,” kata Al-Awadi dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Irak (INA), dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).
Pemerintah Irak juga mengecam serangan terhadap Iran dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional serta norma kemanusiaan.
Menurut pernyataan resmi, aksi militer itu disebut sebagai “agresi terang-terangan” yang melanggar konvensi internasional.
Sebelumnya, Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta menetapkan tujuh hari libur nasional setelah kabar kematian Khamenei. Situasi kawasan semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk salah satu pangkalan yang berada di wilayah Irak.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik regional di Timur Tengah.












