MALANG – Harga Pertamax naik. Akademisi ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. H. Slamet, angkat bicara.
Dia memperingatkan dampaknya. Kenaikan BBM nonsubsidi ini, kata dia, bisa menekan daya beli masyarakat. Apalagi kalau berlangsung lama.
Penyebabnya? Ada dua kata kunci: geopolitik dan rupiah. Timur Tengah panas, harga minyak dunia ikut naik. Rupiah juga lagi lemah ke dolar AS.
Prof. Slamet bilang, pemerintah punya ruang gerak terbatas. Pertamax kan BBM nonsubsidi. Kalau dipaksa tahan, subsidi membengkak.
Dampaknya ke konsumen juga bakal terasa. Sebagian mungkin tetap pakai Pertamax. Tapi yang kantongnya tipis, bakal pindah ke yang lebih murah.
“Biaya transportasi naik, belanja rumah tangga otomatis berkurang,” jelasnya.
Tak cuma rumah tangga, dunia usaha juga kena. Biaya distribusi dan operasional ikut naik. Ujung-ujungnya, harga barang dan jasa bisa meroket.
Tapi Prof. Slamet mengingatkan, akan jauh lebih parah kalau Pertalite ikut naik. Soalnya, Pertalite banyak dipakai UMKM, ojek online, sampai angkutan umum.
Dia juga ngasih saran ke pemerintah. Evaluasi prioritas belanja negara. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, perlu lebih selektif. Fokus ke daerah dengan tingkat kerentanan gizi tinggi.
“Anggaran harus efektif, jangan asal bagi,” ujarnya.
Peringatan terakhir: kalau rupiah terus melemah, tekanan ekonomi makin berat. Prof. Slamet mendorong pemerintah segera stabilkan nilai tukar dan jaga cadangan devisa.












