Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Nasional

Forum Media Online Indonesia 2026 Soroti Peran Media dan Pendidikan dalam Membangun Perdamaian

×

Forum Media Online Indonesia 2026 Soroti Peran Media dan Pendidikan dalam Membangun Perdamaian

Sebarkan artikel ini
Anang Fadhilah mempresentasikan materi tentang viralisasi emosional dalam perilaku sosial pada Indonesia Online Media Forum 2026 melalui pertemuan virtual.
Anang Fadhilah memaparkan materi tentang fenomena viralisasi emosional di masa krisis dalam Indonesia Online Media Forum 2026. Ia menyoroti perilaku sosial masyarakat yang kerap menyebarkan informasi tanpa verifikasi di era digital.

JAKARTA – Indonesia Online Media Forum 2026 menyoroti peran media dan pendidikan dalam membangun budaya damai di tengah meningkatnya tantangan informasi di era digital.

Forum yang digelar Sabtu (7/3/2026) itu mengusung tema “Humanity First: Membangun Perdamaian Berkelanjutan dengan Melindungi Nilai Kemanusiaan.” Kegiatan ini diikuti sekitar 35 peserta yang terdiri dari profesional media dan praktisi pendidikan.

Penyelenggaraan forum bertepatan dengan peringatan Deklarasi Perdamaian Dunia dan Pengakhiran Perang (Declaration of Peace and Cessation of War/DPCW) yang diperingati setiap 14 Maret.

Pasal 10 deklarasi tersebut menekankan pentingnya penyebaran budaya damai melalui peningkatan kesadaran publik, praktik media yang bertanggung jawab, serta pendidikan yang mendorong saling pengertian di tengah keberagaman.

Sejumlah narasumber dari kalangan media dan akademisi hadir dalam forum tersebut, di antaranya Tuty Purwaningsih (Jaringan Media Desa Nusantara), Hendry Nursal (Jambi Daily dan Bicara Jambi), Anang Fadhilah (Info Banua), serta Prof. Dr. H. Barsihannor dari UIN Alauddin Makassar.

Tuty Purwaningsih mengatakan perdamaian tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan konflik, tetapi juga kondisi sosial yang adil dan sehat.

Menurutnya, kesehatan mental masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang damai, terutama dalam perspektif perempuan dan anak.

Sementara itu, Hendry Nursal menyoroti praktik komodifikasi tragedi dalam pemberitaan media. Ia menilai jurnalis tidak hanya perlu mematuhi kode etik jurnalistik, tetapi juga mengedepankan empati dalam menyusun berita.

“Media tidak melakukan penghakiman, tetapi perlu menempatkan rasa sehingga bisa melihat persoalan dari sisi korban maupun pelaku,” ujarnya.

Anang Fadhilah menyoroti fenomena viralisasi emosional di media sosial. Ia mengatakan banyak orang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Menurutnya, perilaku tersebut kerap muncul ketika masyarakat menghadapi situasi krisis.
Dari perspektif pendidikan, Prof. Barsihannor menilai pendidikan perdamaian penting diterapkan di era post-truth.

Baca Juga  HWPL Gelar Peringatan 11 Tahun World Peace Summit, Hadirkan 770 Tokoh Dunia

Ia menekankan pentingnya membuka ruang dialog yang inklusif serta membangun kurikulum yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan nilai toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.

Dalam sesi diskusi kelompok, peserta forum juga menyoroti pentingnya komunikasi yang santun dan empati di tengah masyarakat.

Peserta menilai para pendidik memiliki peran penting dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif serta membantu pelajar memahami keberagaman.

Forum ditutup dengan komitmen peserta untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun budaya damai yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *