Tanah Laut – Warga Desa Sungai Bakar, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, mengeluhkan embung yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Infrastruktur penampung air itu dinilai gagal menjalankan fungsi utamanya untuk menampung air hujan, mencegah banjir, dan mengairi lahan saat musim kemarau.
Embung tersebut dibangun hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Tanah Laut dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), dengan pembebasan lahan seluas delapan hektare pada tahun 2021.
Namun hingga kini, warga menyebut embung tak memberi manfaat maksimal.
“Embung ini seharusnya berfungsi saat hujan untuk menampung air dan saat kemarau untuk irigasi. Tapi sampai sekarang tidak pernah digunakan maksimal,” ujar Kepala Desa Sungai Bakar, Hadran, kepada wartawan, Senin (7/7/2025).

Kekecewaan serupa juga disampaikan warga setempat, Rahma. Ia menyoroti minimnya pengaruh embung terhadap irigasi dan pengendalian banjir.
“Embung ini dibangun dengan dana besar, tapi tidak mengairi sawah karena di bawahnya tidak ada lahan pertanian aktif. Saat banjir, pintu air juga tidak dibuka. Di hulu banjir, di hilir malah kering,” keluh Rahma.
Rahma menambahkan bahwa lokasi embung sebetulnya strategis dan bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata air karena letaknya tak jauh dari objek wisata Lembah Bajuin.
“Sayang sekali, tidak ada pengembangan. Bisa jadi tempat wisata air yang bagus kalau dikelola serius,” tambahnya.
Warga mendesak pemerintah untuk mengevaluasi total fungsi embung dan mengelola infrastruktur itu sesuai tujuan awal: penyimpanan air hujan, pengendalian banjir, pencegah erosi, irigasi lahan, dan potensi wisata.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, embung ini cuma jadi bangunan mati yang menghabiskan anggaran negara,” tutupnya.












