Oleh : Muhammad Zailani
Di tengah narasi bahwa mahasiswa adalah kelompok yang “punya waktu luang”, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh berbeda. Tidak sedikit mahasiswa hari ini yang harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja demi bertahan hidup. Bukan karena gaya hidup, melainkan karena kebutuhan dasar yang kian sulit dipenuhi.
Biaya pendidikan yang terus meningkat, ditambah kebutuhan hidup seperti makan, transportasi, hingga tempat tinggal, membuat sebagian mahasiswa tidak lagi bisa bergantung sepenuhnya pada orang tua. Terlebih bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, bekerja sambil kuliah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Sayangnya, realitas ini kerap luput dari perhatian. Mahasiswa yang bekerja sering kali dicap tidak fokus kuliah, malas, atau tidak mampu mengatur waktu. Padahal, banyak dari mereka justru belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan manajemen waktu lebih awal dibandingkan rekan-rekannya.
Di sisi lain, sistem pendidikan belum sepenuhnya ramah terhadap mahasiswa pekerja. Jadwal kuliah yang kaku, tugas yang menumpuk tanpa mempertimbangkan kondisi sosial mahasiswa, hingga minimnya kebijakan fleksibel, menjadi tantangan tersendiri. Akibatnya, mahasiswa berada pada posisi serba salah: mengejar prestasi akademik atau memenuhi kebutuhan hidup.
Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Perguruan tinggi idealnya tidak hanya menjadi menara gading akademik, tetapi juga ruang yang memahami realitas sosial mahasiswanya. Fleksibilitas jadwal, kebijakan akademik yang adaptif, serta dukungan terhadap mahasiswa pekerja bukanlah bentuk pemanjaan, melainkan wujud keadilan sosial.
Pemerintah juga memiliki peran penting. Program bantuan pendidikan, beasiswa, dan subsidi biaya hidup perlu diperluas dan tepat sasaran. Jangan sampai pendidikan tinggi hanya menjadi hak mereka yang secara ekonomi sudah mapan. Jika kondisi ini dibiarkan, maka pendidikan justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.
Mahasiswa yang bekerja bukan ancaman bagi kualitas pendidikan. Sebaliknya, mereka adalah potret ketahanan generasi muda dalam menghadapi tekanan ekonomi. Yang dibutuhkan bukan stigma, melainkan pemahaman dan kebijakan yang berpihak.
Pada akhirnya, mahasiswa bukan sekadar pencari nilai di ruang kelas. Mereka adalah individu yang sedang berjuang membangun masa.












