Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Tasikmalaya

Dimas Batik: Bertahan dengan Lilin, Menembus Pasar Global

×

Dimas Batik: Bertahan dengan Lilin, Menembus Pasar Global

Sebarkan artikel ini
Aisha Nadia menunjukkan motif batik tulis khas Jawa Barat di galeri Dimas Batik, Tasikmalaya.

TasikmalayaBacakabar – Di tengah gempuran teknologi printing dalam industri batik, Dimas Batik tetap setia menjaga keaslian batik tulis tradisional. Berdiri sejak 1987 di Indihiang,

UMKM binaan PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat ini menjadi satu-satunya pengrajin batik tulis di Tasikmalaya yang masih menggunakan malam (lilin) dalam setiap proses produksinya.

Aisha Nadia, pemilik Dimas Batik, mempekerjakan 25 pembatik. Sebanyak 15 orang bekerja di pabrik, sementara 10 ibu rumah tangga membatik dari rumah sambil tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu.
“Kami ingin mempertahankan tradisi, sekaligus memberi ruang produktif bagi ibu-ibu tanpa meninggalkan peran mereka di rumah,” ujar Aisha.

Perjalanan Aisha merintis Dimas Batik penuh tantangan. Ia mengenang masa-masa ketika harus memanggul karung berisi kain batik dan berjalan kaki untuk menawarkan ke calon pembeli.
“Saya pernah diusir satpam karena dikira pemulung. Tapi saya tahu, saya membawa warisan budaya yang berharga,” kenangnya.

Dua bulan sebelum pandemi COVID-19, Aisha menerima dana UMK sebesar Rp50 juta dari Pertamina. Dana itu ia manfaatkan untuk membeli lahan dan membangun galeri permanen Dimas Batik. Tak disangka, masa pandemi justru menjadi momen kebangkitan bisnisnya. Permintaan melonjak dari desainer-desainer ternama di Bandung dan Jakarta, yang memesan kain untuk busana para pejabat dan selebriti nasional.

Kini, Dimas Batik menjual produknya ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung. Tak hanya itu, pasar luar negeri seperti Singapura dan Jepang juga menjadi pelanggan tetap.
“Orang Jepang menyukai motif bunga kecil seperti sakura, melati, dan truntum. Mereka kurang menyukai motif hewan, jadi kami menyesuaikan tanpa kehilangan identitas,” jelas Aisha.

Baca Juga  Pembalap DIY dan Tangerang Kuasai Pertamax Turbo Drag Fest 2025 Putaran III

Motif-motif yang ditawarkan Dimas Batik sarat filosofi. Merak Ngibing menggambarkan gerak lincah dan penuh warna burung merak. Tiga Negeri menyimbolkan perpaduan budaya dari Jawa, Pekalongan, dan Lasem. Cupat Manggu terinspirasi dari buah manggis yang menggambarkan kesegaran dan keseimbangan alam. Sementara Sidomukti menjadi simbol harapan dan kemakmuran dalam berbagai upacara adat.

Sebagai UMKM binaan Pertamina, Dimas Batik aktif mengikuti pelatihan, termasuk Pertamina UMK Academy Go Global 2024, untuk memperluas pasar ekspor dan penguatan kapasitas usaha.

Eko Kristiawan, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga JBB, mengapresiasi kegigihan Aisha dalam menjaga budaya lokal.
“Kami bangga mendampingi UMKM seperti Dimas Batik yang menjaga budaya dan mampu bersaing di pasar global. Inilah semangat binaan Pertamina: berakar di lokal, berpikir global,” ujarnya.

Kisah sukses Dimas Batik sejalan dengan semangat Asta Cita ke-3 pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendukung industri kreatif, dan meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Dengan semangat dan konsistensi Aisha Nadia, serta dukungan dari Pertamina, Dimas Batik tidak hanya menjadi pelaku industri kreatif, tetapi juga penjaga warisan budaya bangsa. Di tengah arus modernisasi, Aisha tetap memilih lilin, karena baginya, setiap goresan malam adalah jejak sejarah yang tak tergantikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *