Sukamara – Upaya pemberantasan penyakit menular terus dikuatkan pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kini menyasar lingkungan pemasyarakatan, salah satu lokasi dengan risiko tinggi penularan tuberkulosis (TBC), melalui kegiatan skrining gejala, pemeriksaan rontgen dada (chest X-ray), dan pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) bagi warga binaan di Lapas Kelas III Sukamara, Senin (29/9/2025).
Langkah ini menjadi bagian penting dari program nasional eliminasi TBC 2030, yang menargetkan Indonesia bebas dari penyakit menular mematikan tersebut. Di lapas, kondisi hunian yang padat dan sirkulasi udara terbatas membuat penyebaran TBC lebih cepat, sehingga deteksi dini dan pencegahan menjadi langkah strategis.
Melalui pemeriksaan awal dan radiologi, petugas medis dapat mengidentifikasi warga binaan yang berisiko terinfeksi sedini mungkin. Mereka yang memenuhi kriteria langsung mendapatkan terapi pencegahan TBC, bertujuan mencegah infeksi laten berkembang menjadi TBC aktif yang dapat menular ke sesama penghuni.
Kepala Lapas Kelas III Sukamara, Fajar Nurcahyono Assyifa, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kesehatan warga binaan.
“Kegiatan ini sangat berarti bagi kami. Dengan adanya skrining, pemeriksaan X-ray, hingga terapi pencegahan, risiko penularan TBC bisa ditekan, dan warga binaan dapat menjalani masa pembinaan dalam kondisi sehat,” ujarnya.
Fajar juga menyebutkan, antusiasme warga binaan sangat tinggi. Mereka mengikuti pemeriksaan dengan tertib dan aktif berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Selain layanan medis, petugas juga memberikan edukasi pola hidup bersih dan sehat, termasuk pentingnya ventilasi, etika batuk, dan gizi seimbang sebagai bagian dari pencegahan TBC.
“Ini bukan sekadar pemeriksaan, tetapi bentuk kepedulian negara terhadap hak kesehatan warga binaan. Kami berharap langkah ini terus berlanjut agar Lapas menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari penyakit menular,” tambahnya.
Melalui upaya terintegrasi antara pemerintah, petugas pemasyarakatan, dan warga binaan, diharapkan angka kasus TBC terus menurun sekaligus mempercepat terwujudnya Indonesia bebas TBC pada 2030.












