Scroll untuk baca artikel
Nasional

Air Mata Keluarga Pecah di Pos Ante Mortem, Menanti Kepastian

×

Air Mata Keluarga Pecah di Pos Ante Mortem, Menanti Kepastian

Sebarkan artikel ini
Keluarga korban pesawat ATR 42-500 menjalani proses ante mortem dan tes DNA
Keluarga korban pesawat ATR 42-500 menunggu giliran pemeriksaan DNA di Pos Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan, Makassar. (Foto detiksulsel).

MAKASSAR – Suasana haru menyelimuti Pos Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Senin (19/1/2026). Sejak siang, satu per satu keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 datang dengan langkah berat dan wajah penuh harap.

Di ruangan itulah, air mata dan doa bercampur menjadi satu. Keluarga tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yakni Ferry Irawan, Deden Maulana, dan Yoga Naufal menjalani proses pemeriksaan DNA. Ketiganya tercatat sebagai penumpang pesawat Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Raut lelah dan mata sembab tampak jelas di wajah para anggota keluarga. Ada istri, anak, kakak, hingga adik yang hadir mewakili keluarga inti. Tanpa banyak bicara, mereka langsung diarahkan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk mengikuti prosedur antemortem.

Proses identifikasi dilakukan secara cermat dan berlapis. Tim DVI mengumpulkan data medis, rekam gigi, sidik jari, serta sampel DNA pembanding. Seluruh data dicatat dalam formulir standar Interpol guna memastikan keakuratan identifikasi korban.

Di sela pemeriksaan, isak tangis pelan kerap terdengar. Doa dipanjatkan tanpa henti, meski ketidakpastian masih membayangi.

Sehari sebelumnya, Minggu (18/1/2026) malam, sejumlah keluarga korban lain telah lebih dulu mendatangi pos yang sama. Mereka di antaranya keluarga Esther Aprilita, Florencia Lolita, Dwi Murdiono, serta adik kandung kopilot Heru Gunawan.

Salah satu yang memilih menetap sementara di Makassar adalah Bambang Muchwanto, ayah dari Dwi Murdiono. Bersama anak ketiganya, Tarmizi, Bambang menempuh perjalanan panjang dari Kota Malang setelah menerima kabar nama putranya tercantum dalam daftar korban.

“Saya berangkat dari rumah siang, sampai di Makassar malam. Saya tunggu di sini sampai anak saya ditemukan,” ujar Bambang lirih di Pos Biddokkes Polda Sulsel.

Baca Juga  Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Jurang 500 Meter Gunung Bulusaraung

Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr Muhammad Haris menegaskan, proses antemortem menjadi bagian krusial dalam tahapan identifikasi korban kecelakaan pesawat.

“Pos Ante Mortem ini disiapkan untuk memastikan identitas korban secara akurat. Selain itu, kami juga memberikan pendampingan psikolog kepada keluarga agar tetap kuat selama proses berlangsung,” ujarnya.

Kini, keluarga korban hanya bisa menunggu perkembangan terbaru dari operasi pencarian dan evakuasi di Gunung Bulusaraung, sambil berharap kepastian segera datang di tengah duka yang mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *