BANJARBARU — Polisi mengungkap motif ekonomi di balik pembunuhan terhadap seorang pengajar pondok pesantren berinisial HS (25) yang jasadnya ditemukan di kawasan Sungai Ulin, Banjarbaru.
Kapolres Banjarbaru AKBP Pius X Febry Aceng Loda mengatakan, korban menjadi sasaran pelaku dalam aksi pencurian dengan kekerasan yang telah direncanakan.
“Motifnya ekonomi. Pelaku mengincar korban untuk mengambil barang berharga miliknya,” ujar Pius dalam konferensi pers, Sabtu (2/5/2026).
Kasus ini bermula saat korban dilaporkan hilang pada Selasa (28/4/2026) sore. Korban tidak pulang ke rumah dan tidak masuk kerja seperti biasanya, sementara telepon selulernya tidak dapat dihubungi.
Keluarga bersama warga kemudian melakukan pencarian. Keesokan harinya, sepeda motor korban ditemukan di sekitar lokasi. Beberapa jam kemudian, jasad korban ditemukan di semak-semak, sekitar 500 meter dari permukiman.
Berdasarkan hasil penyelidikan, dua terduga pelaku berinisial AS (40) dan MF (43) ditangkap pada Jumat (1/5/2026). Keduanya diketahui telah merencanakan aksi dengan mengincar korban yang kerap melintas seorang diri.
Dalam aksinya, korban diserang hingga tidak berdaya sebelum akhirnya meninggal dunia. Pelaku kemudian membawa kabur barang milik korban, termasuk sepeda motor dan telepon genggam.
Polisi menyebut total kerugian akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp9 juta.
Sejumlah barang bukti turut diamankan, di antaranya benda yang diduga digunakan dalam aksi, pakaian korban, serta barang milik pelaku dan korban.
Kedua terduga pelaku dijerat pasal berlapis terkait pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup atau hukuman mati.
Polisi menyatakan penyidikan masih berlanjut untuk mendalami peran masing-masing pelaku serta kemungkinan adanya fakta lain dalam kasus tersebut.












