MAJALENGKA — Di usia yang masih belia, Anjar Prasasti Rabbana memilih jalan yang tak biasa. Saat sebagian besar teman sebayanya menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bermain atau beristirahat, siswa kelas II SMP Negeri 1 Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, itu justru sibuk menyiapkan adonan burger dan kebab di lapak sederhananya.
Anjar, yang akrab disapa Akang, mulai menekuni usaha kuliner sejak usia 14 tahun. Keberaniannya berwirausaha tumbuh dari kebiasaan membantu usaha keluarga. Kedua orang tuanya sehari-hari berjualan kopi dan mi rebus. Dari situlah ia belajar memahami ritme usaha kecil dan perlahan menumbuhkan kepercayaan diri untuk membuka usaha sendiri.
“Awalnya cuma ingin punya uang jajan tambahan dan bantu orang tua,” ujar Anjar saat ditemui di lokasi dagangnya, Minggu (25/1/2026).
Lapak Anjar mulai beroperasi setiap sore, usai pulang sekolah. Ia berjualan dari pukul 16.00 hingga sekitar 21.00 WIB di kawasan perempatan BUMDes Desa Pagandon, Kecamatan Kadipaten. Modal awal yang ia kumpulkan sebesar Rp1 juta kini berkembang menjadi usaha yang cukup menjanjikan.
“Alhamdulillah, omzet sehari bisa sekitar Rp300 ribu. Buat anak seumuran saya, itu sudah besar sekali,” katanya sambil tersenyum.
Anjar mengaku tak pernah merasa malu berjualan meski masih mengenakan seragam sekolah saat menyiapkan dagangan. Baginya, keberanian dan mental justru menjadi modal utama untuk bertumbuh.

“Saya tidak malu. Untuk bangkit itu bukan cuma soal modal dan keterampilan, tapi juga keberanian,” ujarnya.
Usaha kuliner Anjar perlahan mendapat tempat di hati pelanggan. Salah satunya Aris, warga setempat, yang mengaku kerap membeli burger dan kebab buatan Anjar.
“Harganya terjangkau, rasanya enak, dan variannya beda-beda. Hampir tiap sore anak atau istri pasti minta dibelikan,” kata Aris.
Kisah Anjar menjadi potret kecil semangat kewirausahaan di usia dini. Dengan niat, dukungan keluarga, dan kemauan untuk belajar, remaja SMP ini membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk mandiri dan berkontribusi bagi keluarga.












