Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Lingkungan

WALHI Soroti Lubang Eks Tambang Batu Bara yang Terus Renggut Nyawa di Kalimantan Selatan

×

WALHI Soroti Lubang Eks Tambang Batu Bara yang Terus Renggut Nyawa di Kalimantan Selatan

Sebarkan artikel ini
Peta citra satelit wilayah pertambangan batu bara di Kintap Kecil, Tanah Laut, dengan penanda perkiraan lokasi korban tenggelam di lubang eks tambang.
Tangkapan layar peta wilayah pertambangan di Desa Kintap Kecil, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang menunjukkan perkiraan lokasi lubang eks tambang batu bara tempat seorang anak dilaporkan tenggelam. (Foto Istimewa)

TANAH LAUT, Kalimantan Selatan — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan kembali menyoroti keberadaan lubang bekas tambang batu bara yang dinilai terus memakan korban jiwa. Sorotan itu menguat setelah seorang anak perempuan berusia 12 tahun meninggal dunia akibat tenggelam di lubang eks tambang di Desa Kintap Kecil, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Januari 2026.

Korban dilaporkan tenggelam di lubang bekas galian tambang yang telah lama tidak beroperasi dan terisi air. Berdasarkan informasi yang dihimpun, lubang tersebut berada dekat permukiman warga tanpa pagar pengaman maupun tanda peringatan. Korban ditemukan meninggal dunia pada hari yang sama setelah dilakukan pencarian oleh warga dan tim gabungan.

WALHI Kalsel menilai peristiwa tersebut bukan insiden tunggal. Organisasi lingkungan itu mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kematian akibat lubang bekas tambang kembali berulang di Kalimantan Selatan, terutama di wilayah Tanah Laut dan sekitarnya.

Pada Juli 2025, dua balita ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di kubangan bekas tambang di Desa Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut. Sebelumnya, pada September 2024, seorang remaja berusia 13 tahun juga dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di lubang eks tambang di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Kintap.

Tragedi serupa bahkan tercatat lebih lama. Pada 2014, tiga siswi sekolah dasar di Desa Sinar Bulan, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, meninggal dunia akibat genangan air di area bekas tambang. Sementara pada Juni 2020, seorang warga dewasa ditemukan meninggal dunia di lubang bekas tambang di Kabupaten Banjar.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan, Raden Rafiq S.F.W., menyebut kematian akibat lubang tambang merupakan dampak langsung dari pembiaran terhadap kewajiban reklamasi pascatambang.

Baca Juga  Tanam Mangrove di Muara Pagatan, Tanah Bumbu Perkuat Perlindungan Pesisir

Menurutnya, lubang-lubang tersebut seharusnya ditutup dan direklamasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, namun dalam praktiknya masih banyak yang dibiarkan terbuka, tergenang air, dan berada di sekitar aktivitas warga.

Hal senada disampaikan Manajer Advokasi WALHI Kalsel, M. Jefry Raharja, yang menilai tragedi berulang ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap perusahaan tambang. Ia menyebut lubang eks tambang telah berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak.

WALHI Kalsel mencatat, sejak 2019 hingga awal 2026, sedikitnya 20 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di lubang bekas tambang di Kalimantan Selatan. Sebagian besar korban merupakan anak-anak.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait langkah penanganan lubang bekas tambang di lokasi kejadian terakhir. WALHI mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin usaha pertambangan serta memastikan kewajiban reklamasi dijalankan guna mencegah jatuhnya korban jiwa berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *