BANJARBARU – Upaya memperkuat ketahanan terhadap bencana terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Banjar. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah menggelar Focus Group Discussion (FGD) perhitungan mandiri Indeks Ketahanan Daerah (IKD) di Hotel Roditha, Banjarbaru, Senin (20/10/2025).
Kegiatan ini dihadiri Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Banjar, H. Ikhwansyah, sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan FGD. Sebanyak 54 peserta dari unsur SKPD, DPRD, Kemenag, TNI/Polri, PLN, PTAM Intan Banjar, BPBD Provinsi Kalsel, Manggala Agni, SAR Banjarmasin, BWS Kalimantan III, dan PMI turut serta dalam kegiatan tersebut.
Dalam arahannya, Ikhwansyah menilai penghitungan IKD menjadi langkah strategis untuk memastikan arah pembangunan daerah selaras dengan prinsip mitigasi risiko bencana. Ia menegaskan, peningkatan nilai IKD akan berbanding lurus dengan penurunan Indeks Risiko Bencana (IRB).
“Perhitungan ini bukan hanya soal angka, tetapi soal kesiapan daerah menghadapi risiko bencana. Ketika IKD naik, maka IRB otomatis turun. Ini berarti kita semakin tangguh,” ujarnya.
Ikhwansyah juga mengingatkan pentingnya validasi data dari seluruh perangkat daerah. Ia meminta hasil FGD tak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi harus dilanjutkan menjadi rencana aksi nyata yang dapat diukur hasilnya.
“Kita tidak ingin sekadar menghasilkan dokumen. Harus ada timeline dan langkah konkret agar ketertinggalan bisa dikejar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ikhwansyah menyoroti sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat, seperti tata kelola penanganan bencana, kesiapsiagaan masyarakat, serta sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana.
Sementara itu, Plt Kalak BPBD Banjar, Yayan Daryanto, menjelaskan bahwa FGD ini digelar untuk menyeragamkan persepsi antarsektor, sekaligus memvalidasi data yang akan menjadi dasar penyusunan kebijakan ketahanan daerah tahun 2026.
“Melalui FGD ini kita ingin memastikan data yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi lapangan. Dengan begitu, arah pembangunan ke depan bisa lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutur Yayan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah masukan dari perwakilan lintas instansi terkait sinkronisasi data kebencanaan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana












