MALANG — Duo DJ asal Belanda, Yellow Claw, kembali menarik perhatian dunia. Kali ini, mereka menghadirkan karya visual spektakuler dengan memilih Gunung Bromo sebagai latar utama video musik bertajuk The Interstellar Trap Mix 2026.
Video yang dirilis pada awal Maret 2026 itu langsung viral dan menuai respons positif dari publik global. Bukan sekadar set DJ biasa, Yellow Claw menyulap lanskap Bromo menjadi dunia futuristik yang menyerupai “planet asing” dalam film fiksi ilmiah.
Hamparan lautan pasir, kabut tipis, serta panorama kaldera gunung berapi ditampilkan secara sinematik dan dramatis. Dalam video tersebut, dua personel Yellow Claw, Jim Taihuttu dan Nils Rondhuis, tampil mengenakan kostum astronot sambil memainkan musik di tengah bentang alam ekstrem.
Konsep ini dinilai berhasil memadukan kekuatan musik elektronik dengan keindahan alam Indonesia dalam satu karya berkelas internasional.
Pengamat musik elektronik, Andika Prasetyo, menilai langkah ini sebagai strategi kreatif yang kuat.
“Ini bukan sekadar video musik, tapi storytelling visual yang kuat. Lanskap Bromo dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman audio-visual yang global,” ujarnya.
Menurutnya, karakter geografis Bromo yang unik menjadi alasan kuat dipilih sebagai lokasi. Lanskapnya yang eksotis dan berbeda membuatnya sangat cocok untuk konsep futuristik.
Senada, pengamat pariwisata Jawa Timur, Siti Rahmawati, menyebut eksposur tersebut memberikan dampak besar bagi promosi wisata Indonesia.
“Tanpa kampanye formal, jutaan penonton dunia bisa melihat keindahan Bromo. Ini promosi yang sangat efektif,” katanya.
Video berdurasi sekitar 38 menit itu pun ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet Indonesia mengaku bangga karena salah satu ikon wisata nasional tampil dalam karya musisi kelas dunia.
Gunung Bromo selama ini memang dikenal sebagai destinasi unggulan Indonesia yang kerap menjadi lokasi produksi film dan konten visual. Lanskapnya yang dramatis, dengan kombinasi lautan pasir dan kawah aktif, memberikan daya tarik yang sulit ditandingi.
Melalui karya ini, Yellow Claw tidak hanya memperkuat eksistensinya di industri musik global, tetapi juga turut mengangkat citra Indonesia sebagai destinasi wisata berkelas dunia.
Di tengah persaingan industri kreatif global, kolaborasi antara musik dan keindahan alam seperti ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil di panggung internasional.












