Batulicin – Aroma lembut lavender dan melati memenuhi aula kecil di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin, Rabu (12/11/2025) pagi itu.
Beberapa warga binaan tampak sibuk menuang cairan lilin berwarna putih ke dalam cetakan kecil, sementara yang lain dengan hati-hati menata sumbu dan menambahkan tetes minyak esensial.
Di bawah bimbingan Kepala Subseksi Pembinaan, Harry Indrawan, suasana yang biasanya kaku di dalam lapas terasa hangat dan penuh semangat. “Hati-hati, jangan terlalu panas,” ujar Harry, memberi arahan sambil memperhatikan satu per satu peserta.
Hari itu, mereka tidak sekadar membuat lilin aromaterapi. Mereka sedang belajar menyulut kembali harapan—bahwa dari balik tembok tinggi Lapas, masih ada ruang untuk memperbaiki diri dan menatap masa depan.
“Awalnya saya nggak tahu lilin bisa dibuat sendiri begini,” kata R, salah satu warga binaan yang ikut pelatihan, sambil tersenyum kecil. “Wangi dan tenang rasanya, bikin hati agak ringan.”
Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Batulicin.
Selain mengajarkan keterampilan baru, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memberikan efek relaksasi dan terapi psikologis bagi para warga binaan.
Harry menjelaskan, pembuatan lilin aromaterapi dipilih karena sederhana, bernilai jual tinggi, dan bisa menjadi peluang usaha setelah bebas nanti.
“Kami ingin mereka punya keahlian yang bisa dikembangkan di luar nanti. Dari hal kecil seperti lilin pun bisa jadi jalan untuk hidup lebih mandiri,” ujarnya.

Lilin yang telah jadi dikemas dengan desain menarik. Beberapa warga binaan bahkan mulai memberi nama untuk hasil karya mereka—seolah ingin meninggalkan jejak baik dari masa yang tak mudah.
Kepala Lapas Batulicin, Arifin Akhmad, menyebut kegiatan semacam ini penting sebagai bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan diri warga binaan.
“Kemandirian itu harus ditumbuhkan. Kami ingin mereka keluar dari sini bukan dengan rasa takut, tapi dengan kemampuan,” katanya.
Di akhir sesi, aula kembali tenang. Beberapa lilin mulai mengeras, meninggalkan aroma lembut yang menenangkan.
Bagi sebagian orang, lilin hanyalah sumber cahaya. Tapi bagi warga binaan Lapas Batulicin, ia menjadi simbol kecil dari sebuah awal yang baru.












