SURABAYA — Suasana akhir pekan di One Deck Gastropub, Surabaya, terasa berbeda pada Minggu (17/5/2026). Tepuk tangan penonton bersahutan dengan alunan musik yang dimainkan anak-anak dan remaja dalam gelaran “Ekspresiku”, sebuah panggung kreatif yang memberi ruang bagi talenta muda untuk tampil percaya diri di depan publik.
Sejak pagi, panggung kecil di sudut venue dipenuhi energi para peserta berusia 7 hingga 17 tahun asal Surabaya dan Sidoarjo. Ada yang tampil solo dengan gitar atau keyboard, ada pula yang datang bersama band, membawakan lagu dengan gaya masing-masing.
Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB itu menghadirkan lima solois dan tiga band dari kalangan pelajar SD hingga SMA. Lagu-lagu populer dipilih sebagai medium berekspresi, sementara penonton yang didominasi orang tua dan keluarga tampak tak henti memberi dukungan.
Bagi sebagian peserta, ini bukan sekadar tampil di atas panggung. Ada rasa gugup yang harus ditaklukkan, sekaligus keberanian untuk menunjukkan kemampuan di hadapan banyak orang.
Konsep yang diusung “Ekspresiku” sengaja dibuat hangat dan suportif. Bukan kompetisi, melainkan ruang untuk anak-anak mengeksplorasi minat di bidang musik tanpa tekanan.
General Manager ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya, Teddy Patrick, mengatakan acara tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda.
“ARTOTEL hadir bukan hanya sebagai ruang menginap, tetapi juga ruang kreatif yang mendukung perkembangan seni dan talenta muda. Melalui Ekspresiku, kami ingin memberikan pengalaman positif sekaligus wadah bagi generasi muda untuk berani tampil,” ujarnya.

Salah satu peserta, Rafano Ardana Asmara atau Fano, menjadi perhatian penonton saat tampil memainkan gitar. Siswa kelas 1 SD Muhammadiyah Sidoarjo itu mengaku menikmati setiap proses belajar musik, meski sesekali harus menahan rasa sakit di ujung jari akibat senar gitar.
“Aku suka main gitar. Lagu favoritku Laskar Pelangi sama Ampar-Ampar Pisang. Pengen nanti bisa bikin lagu sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Sepanjang acara, suasana terasa cair. Penonton tak segan memberi tepuk tangan di tiap penampilan, menciptakan atmosfer yang membuat peserta tampil lebih percaya diri.
Di tengah derasnya hiburan digital, panggung kecil seperti “Ekspresiku” menjadi pengingat bahwa ruang ekspresi bagi anak-anak tetap penting—bukan hanya untuk menunjukkan bakat, tetapi juga membangun keberanian dan karakter sejak dini.












