Batulicin – Setiap hari, sampah yang menggunung di TPA Tanah Bumbu tembus 100 ton. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pun mulai gerak cepat. Targetnya, sampah yang benar-benar berakhir di TPA nantinya cuma 0,25 persen.
Kepala DLH Tanah Bumbu, Muhammad Risdianadi, sadar betul. Masalah sampah sekarang gak bisa cuma diangkut lalu dibuang. Harus ada perubahan dari rumah tangga.
“Kami ingin sampah sudah terpilah dari rumah tangga. Dengan begitu, saat sampai ke TPA volumenya bisa berkurang,” katanya usai acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Simpang Empat Sabtu (6/6/2026).
Soalnya, 100 ton per hari itu bukan angka kecil. Kalau dibiarkan, TPA cepat penuh. Umurnya jadi pendek. Biaya operasional membengkak.
Makanya, DLH gencar ngebut program bank sampah. Di sejumlah desa yang sudah jalan, program ini terbukti mengurangi timbunan sekaligus bikin warga dapat untung. Sampah yang dipilah dijual ke pengepul.
“Sampah organik rumah tangga bisa diolah jadi kompos. Jadi gak cuma lingkungan bersih, masyarakat juga dapet manfaat ekonomi,” jelas Risdianadi.
Targetnya memang berat. DLH ingin sampah residu yang beneran masuk TPA cuma seperempat persen. Artinya, 99,75 persen sampah harus dimanfaatkan.
“Kami upayakan sampah residu sampai 0,25 persen,” ujarnya singkat, dengan nada percaya diri.
Risdianadi berharap budaya pilah sampah bisa jadi kebiasaan. Bukan cuma di kota, tapi juga sampai pelosok desa. Karena soal sampah, semua punya tanggung jawab yang sama.












