KOTABARU, Kalimantan Selatan — Aktivitas penggantian Jembatan Semayap di Kabupaten Kotabaru sempat dihentikan sementara oleh warga setempat. Penghentian dilakukan karena pekerjaan konstruksi berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya, menutup akses jalan utama, serta memicu kekhawatiran dampak sosial bagi warga sekitar.
Situasi tersebut mendorong dilakukannya mediasi antara warga, pemerintah desa, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan, serta pihak kontraktor pelaksana. Pertemuan berlangsung di salah satu rumah warga pada Rabu (7/1/2026).
Dalam mediasi itu, warga menyampaikan sejumlah keberatan, termasuk terganggunya aktivitas ekonomi harian akibat tertutupnya akses jalan. Sejumlah pelaku usaha kecil mengaku kehilangan pendapatan sejak pekerjaan dimulai. Warga juga menyoroti aspek keselamatan dan kondisi kesehatan salah seorang warga yang menderita penyakit jantung.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kalimantan Selatan, Nino Sutrisno, mengatakan mediasi berjalan kondusif dan menghasilkan kesepahaman bersama.
“Mediasi hari ini membahas dampak sosial pekerjaan jembatan. Penyedia jasa memahami kondisi warga dan disepakati perlunya komunikasi lanjutan agar tidak terjadi miskomunikasi,” kata Nino.
Ia menegaskan penghentian sementara tersebut tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap proyek. Menurutnya, warga pada prinsipnya mendukung penggantian jembatan yang dinilai sudah tidak layak digunakan.
“Jembatan ini penting untuk konektivitas dan pergerakan ekonomi. Target kami pekerjaan tetap berjalan sesuai rencana, bahkan diupayakan selesai lebih cepat,” ujarnya.
Perwakilan kontraktor menyatakan komitmen melanjutkan pekerjaan dengan memperhatikan kondisi sosial di sekitar proyek. Ia menjelaskan Jembatan Semayap akan diganti secara menyeluruh menggunakan struktur beton dengan sistem pemancangan baru karena kondisi jembatan lama sudah rusak berat.

“Kami akan menyesuaikan pelaksanaan pekerjaan agar tidak menimbulkan konflik. Terkait kompensasi, masih akan dibahas lebih lanjut dengan pihak terkait,” katanya.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat menyambut positif hasil pertemuan tersebut dan berharap kesepakatan yang dicapai dapat dijalankan secara konsisten.
Dengan tercapainya kesepahaman antara seluruh pihak, pekerjaan penggantian Jembatan Semayap kembali dilanjutkan. Pemerintah daerah menilai peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi terbuka dalam setiap proyek infrastruktur, agar pembangunan berjalan seiring dengan kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat.












