BENER MERIAH — Untuk pertama kalinya, Pertamina mengerahkan metode pengiriman sling load menggunakan helikopter guna mempercepat suplai LPG ke wilayah Bener Meriah, Aceh, yang hingga kini masih terisolasi akibat putusnya akses darat setelah bencana melanda daerah tersebut.
Sebanyak 72 tabung Bright Gas 12 kg dikirim dalam tiga paket pengangkutan. Seluruh tabung digantung menggunakan kabel sling, palet khusus, dan safety net yang telah melalui uji keamanan ketat, termasuk pengaturan ketinggian terbang dan komposisi muatan agar distribusi cepat tetap berjalan aman bagi kru maupun warga yang menanti bantuan.
Pengiriman perdana dilakukan dari Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, menggunakan helikopter Sikorsky S-61A. Helikopter kemudian melakukan touchless loading—mengangkat muatan tanpa mendarat—untuk memangkas waktu tempuh menuju Bandara Rembele, Bener Meriah.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, bersama Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyaksikan langsung proses tersebut. Simon menyebut langkah ini sebagai bentuk komitmen mempercepat suplai energi ke daerah terdampak, sekaligus menjadi momentum bersejarah di hari ulang tahun Pertamina ke-68.
“Pertamina bersama TNI, Polri, dan BNPB sudah menyalurkan bantuan ke 164 posko dan mendukung operasional 111 dapur umum. Kami juga memasok BBM, avtur, hingga bahan bakar untuk alat berat agar percepatan pembukaan akses jalan bisa segera terwujud,” ujar Simon.
Ia menegaskan bahwa penggunaan helikopter dengan sling load merupakan tindak lanjut langsung atas arahan Presiden dalam Rapat Terbatas di Banda Aceh pada 7 Desember 2025.
Mars Ega Legowo menambahkan bahwa distribusi ini hanya mungkin terlaksana karena sinergi kuat seluruh pihak di lapangan. “Ini kerja gotong royong. Koordinasi yang solid membuat distribusi LPG ke Bener Meriah bisa dilakukan lebih cepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” katanya.
Menurut Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth, tiga paket pengiriman masing-masing berisi 24 tabung Bright Gas 12 kg yang akan diprioritaskan untuk dapur umum, posko pengungsian, dan kebutuhan dasar warga. Semua tabung disusun vertikal dengan cargo net untuk menjaga stabilitas selama terbang dan proses pendaratan.
Pertamina sebelumnya telah mengirim energi melalui pesawat perintis dan Hercules sejak 3 Desember. Namun penggunaan helikopter dengan metode sling load baru kali ini diterapkan.
“Kami akan menggunakan segala moda transportasi udara yang tersedia. Yang terpenting, energi dapat segera menjangkau warga, menghidupkan dapur umum, dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah situasi sulit,” tutupnya.












