Bacakabar.id – SUKAMARA, Sederet piala dan piagam penghargaan bentuk prestasi para pelajar yang tentunya berasal dari pembinaan para guru nya juga Kepala Sekolah (Kepsek), membuat penuhnya piala dan sertifikat di kaca etalase SMAN 1 Sukamara.
Namun dalam obrolan kali ini wartawan Media online Bacakabar.id bukan ingin menanyakan seberapa banyak prestasi yang diperoleh sekolah melalui berbagai bidang yang jadi unggulan para pelajar.
Yang menjadi titik awal obrolan awak media ini dengan sosok seorang Kepsek SMAN-1 Sukamara saat ini Edy Kasim, S.Ag.
Edy Kasim, S.Ag merupakan alumni STAIN Palangka Raya tahun 2000, bukannya langsung menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Sukamara dan bukan juga langsung menjadi Kepsek, Namun sebelum menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1995 sudah menjadi wartawan pada majalah Fakta di Kota Palangka Raya.
Lulus di tahun 2000, kembali ke Sukamara dan di tahun 2003 menjadi PNS langsung menjadi guru di SMAN-1 Sukamara.
Walaupun sudah berstatus menjadi PNS Guru di SMAN-1 Sukamara jiwa wartawannya tetap ada dan di tahun 2007 mendirikan koran cetak bernama “Sukamara Post”.
Posisi Pimpinan Redaksi pun di jabatnya, namun sayang kesibukan sebagai PNS membuat dirinya dan redaksi lain mengubur mimpi koran Sukamara Post menjadi besar seperti koran lainnya, awal tahun 2008 tidak ada lagi koran Sukamara Post yang dimaksud.
Edy kasim terus melanjutkan ceritanya, pernah di bulan november 2016 koran Sukamara Post terbit tapi setelah itu kembali menghilang hingga saat ini.
Edy menuturkan sembari mengingat belasan tahun silam dirinya mulai menceritakan, kala itu saya pernah menjalani sebagai seorang pemburu berita atau kuli tinta sebutan lain seorang wartawan.
Untuk urusan mengumpulkan bahan berita, mengolah data hingga jadi berita, bahkan sekaligus sebagai bagian dari mencari iklan dan pemasaran pernah di rasakannya.
Jika waktu bisa kembali ketempo dulu, saya rindu akan mencari berita, walaupun susah-susah gampang, sebab sebagai seorang wartawan wajib hukumnya memiliki kepekaan sosial atas apapun yang terjadi disekitar wartawan itu di tugaskan redaksinya.
Edy Kasim bertutur, profesi seorang wartawan baik tempo dulu bahkan sampai saat ini merupakan pemberi informasi kepada kalayak ramai, tentunya informasi yang di sajikan menjadi berita harus sesuai dengan fakta yang terjadi bukan di buat-buat.
Menjadi seorang wartawan tentunya juga harus siap mental, sebab resiko seorang wartawan bisa saja membelengu dirinya sendiri demi satu berita yang akan di publikasikannya ke para pembaca keesokan harinya.
Maka dari itu saya melihat dan bahkan pernah menjalani profesi seorang wartawan janganlah dianggap remeh profesi wartawan, sebab satu daerah baik sisi pembangunan, kejadian sosial di daerah kita ini akan diketahui oleh orang di luar sana dari tulisan sang wartawan, itulah sejatinya seorang wartawan di kenal karena tulisannya.
Jadi wartawan bukan seperti di kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai wartawan akan dituntut selalu siap dan siaga. Kapanpun, dimanapun, apapun yang wartawan lakukan, bagaimana perasaan wartawan, semua itu harus ditinggalkan demi mendapat berita eksklusif dari tempat kejadian langsung.
Wartawan itu bekerja pada industri yang sifatnya menuntut. Menuntut waktu, kecepatan dan pastinya tenaga.
Wartawan juga jarang menemukan yang namanya akhir pekan, bagi seorang wartawan, akhir pekan bisa jadi bukanlah sebuah akhir pekan.
Wartawan harus selalu siap meliput bahkan di akhir pekan. Walau kelihatannya hal ini melelahkan, tapi wartawan yang sudah terbiasa dengan beban tugasnya, pasti justru senang harus terus bekerja. Bahkan di akhir pekan sekalipun.
Edy Kasim, sangat berharap kepada kawan kawan yang saat ini berprofesi sebagai wartawan baik media cetak, elektronik dan online untuk tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
“Salam satu pena, kaya dalam berita para wartawan sudah dinanti pembacanya,” Pungkas Edy Kasim Minggu, (22/5/2022).
Yohanes Eka Irawanto, SE












