Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Jawa Timur

Marsinah, Api Perjuangan Buruh yang Tak Pernah Padam

×

Marsinah, Api Perjuangan Buruh yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Mural Marsinah menjadi pengingat bahwa suara kebenaran tak pernah benar-benar padam. (Foto Istimewa)

Jawa Timur, Bacakabar – Setiap Hari Buruh Internasional, nama Marsinah kembali menggema sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Perempuan muda asal Nganjuk ini dikenal sebagai buruh pabrik yang berani memperjuangkan hak-hak rekan kerjanya, meski harus membayar mahal dengan nyawanya sendiri.

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Dusun Nglundo, Desa Wilangan. Sejak kecil, ia hidup dalam keterbatasan dan diasuh oleh kakek-neneknya. Setelah lulus SMA, Marsinah bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik jam tangan di Sidoarjo. Di sanalah ia mulai menyadari banyaknya pelanggaran hak buruh yang terjadi.

Marsinah aktif menyuarakan keadilan di tengah upah rendah, jam kerja panjang, dan pembatasan kebebasan berserikat. Ia tergabung dalam Serikat Pekerja dan mengikuti pelatihan serta diskusi terkait hak-hak tenaga kerja. Ketika perusahaan menolak mengikuti kenaikan upah minimum yang ditetapkan pemerintah pada Mei 1993, Marsinah ikut memimpin aksi mogok kerja menuntut keadilan.

Namun perjuangan itu berujung tragis. Setelah mendatangi markas militer untuk mencari kejelasan atas pemecatan rekan-rekannya, Marsinah dilaporkan hilang pada 5 Mei 1993. Tiga hari kemudian, warga menemukan jasadnya di hutan Wilangan dengan tanda-tanda penyiksaan berat.

Kematian Marsinah memicu kemarahan publik dan mempermalukan sistem hukum Indonesia. “Keadilan tidak boleh berhenti di kuburan Marsinah. Perjuangannya adalah panggilan bagi siapa pun yang peduli akan hak dan martabat pekerja,” ujar seorang aktivis buruh di Surabaya.

Meski pelaku utama belum pernah diadili secara tuntas, warisan perjuangan Marsinah tetap hidup. Ia menerima penghargaan HAM Yap Thiam Hien secara anumerta pada tahun 1993. Cerita hidupnya terus dihidupkan lewat puisi, teater, dokumenter, dan karya sastra lainnya.

Bagi generasi muda, Marsinah bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia adalah contoh keberanian dan keteguhan melawan ketidakadilan, seorang buruh yang mengubah kesunyian menjadi gelombang suara yang mengguncang kekuasaan. Semangatnya tetap menyala, menjadi api perjuangan yang menerangi jalan buruh Indonesia hingga kini.

Baca Juga  Kapolda Jatim Promosi Bintang Tiga, Ini Prediksi Penggantinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *