MALANG — Barang yang tidak lagi digunakan dalam operasional hotel diolah menjadi produk kreatif bernilai jual oleh The Alana Hotel & Convention Center Malang bersama Yayasan Pejuang Mimpi.
Kolaborasi tersebut memanfaatkan linen bekas operasional dan sandal hotel untuk diolah menjadi berbagai produk, seperti pakaian, outer, pouch, hingga kerajinan lainnya.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju ulang tahun ketiga The Alana Hotel & Convention Center Malang pada Desember 2026. Melalui program corporate social responsibility (CSR), hotel berbintang empat tersebut melibatkan penyandang disabilitas dalam kegiatan kreatif sekaligus membuka peluang kemandirian finansial.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti aktivitas batik painting dan ecoprint. Material yang sebelumnya tidak lagi digunakan hotel dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

Tidak hanya memberikan pelatihan, The Alana Hotel & Convention Center Malang juga menyediakan ruang untuk memajang dan memasarkan hasil karya peserta. Seluruh hasil penjualan dikembalikan 100 persen kepada Pejuang Mimpi.
Cluster HRD Manager The Alana Hotel & Convention Center Malang, Surya Anggara, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan manfaat sosial melalui keberadaan hotel.
“Keberadaan Alana di sini diharapkan bisa memberikan dampak, bukan hanya berpikir secara ekonomis. Kami ingin ada dampak sosial bagi teman-teman penyandang disabilitas, sehingga mereka bisa lebih percaya diri dan mandiri secara finansial,” jelas Surya, Jumat, 23 Oktober 2026.
Produk Pejuang Mimpi Dipasarkan Setiap Akhir Pekan
Kolaborasi antara Alana Hotel Malang dan Pejuang Mimpi sebelumnya telah berjalan selama dua bulan. Dalam periode tersebut, Pejuang Mimpi mendapat kesempatan membuka booth setiap Minggu di hotel.
Produk yang ditawarkan antara lain outer, pouch, dan tempat kacamata. Aktivitas pemasaran tersebut akan terus dikembangkan secara berkala, khususnya pada akhir pekan.
Sistho A. Sreshtho menjelaskan, kerja sama tersebut juga membuka peluang bagi para peserta untuk menampilkan bakat, mulai dari tari hingga peragaan busana, dalam sejumlah acara khusus.
Untuk menjaga kualitas produk, The Alana Hotel & Convention Center Malang akan tetap melakukan pendampingan dan kurasi terhadap karya yang dihasilkan. Pendampingan tersebut dilakukan agar produk memiliki standar kualitas dan daya saing di pasar.
Menurut Surya, penyandang disabilitas memiliki potensi menghasilkan produk berkualitas yang dapat bersaing dengan produk lainnya. Karena itu, proses pendampingan menjadi bagian dari pengembangan karya agar memiliki nilai jual berkelanjutan.
Berpeluang Jadi Suvenir Hotel
Kerja sama juga diarahkan pada pemanfaatan produk untuk kebutuhan hotel. Material sandal sekali pakai, misalnya, berpeluang diolah menjadi produk kreatif yang dapat digunakan sebagai suvenir bagi tamu.
Produk buatan Pejuang Mimpi juga berpeluang diberikan kepada tamu VIP sebagai cendera mata. Setiap produk nantinya dapat dilengkapi cerita mengenai proses pembuatan dan kolaborasi sosial di baliknya.
General Manager The Alana Hotel & Convention Center Malang, Sistho A. Sreshtho, mengatakan pihaknya juga membuka kemungkinan menggunakan kain ecoprint sebagai salah satu alternatif seragam karyawan.
“Kalau perlu kami akan menjajaki penggunaan kain ecoprint sebagai salah satu alternatif seragam karyawan. Nanti kami bahas bersama Pejuang Mimpi, terutama terkait kemampuan produksi dan standar kualitas yang harus dipenuhi,” ujar Sistho.
Untuk tahap awal, manajemen memusatkan kolaborasi pada Pejuang Mimpi sembari mengevaluasi respons dan keberlanjutan program. Jika kerja sama tersebut berjalan baik, Alana Hotel Malang tidak menutup kemungkinan menggandeng komunitas serupa.












