Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Pendidikan

Di Hari Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

×

Di Hari Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

Sebarkan artikel ini
Tampak dua eksemplar buku Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026 dengan desain sampul
Buku Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026 yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 28 tahun Reformasi, Kamis (21/5/2026). Buku ini merekam perjalanan panjang gerakan mahasiswa UJB sejak 1986 hingga 2026 dari perspektif para aktivis lintas generasi.

JAKARTA — Tepat pada peringatan 28 tahun Reformasi 1998, sekelompok aktivis lintas generasi Universitas Janabadra (UJB) meluncurkan sebuah buku yang merekam perjalanan panjang gerakan mahasiswa selama empat dekade terakhir. Buku berjudul Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026 itu diperkenalkan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026).

Peluncuran buku dilakukan bertepatan dengan tanggal runtuhnya pemerintahan Orde Baru pada 21 Mei 1998, sebuah momentum yang dinilai tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pergerakan mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia.

Buku setebal lebih dari 300 halaman tersebut menjadi catatan kolektif yang disusun langsung dari perspektif para pelaku gerakan mahasiswa, khususnya aktivis Universitas Janabadra. Isinya tak hanya menyoroti fase Reformasi 1998, tetapi juga dinamika panjang perjuangan mahasiswa sejak era 1980-an.

Salah satu penggagas buku, Heroe Waskito, mengatakan jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, Reformasi lahir melalui proses panjang yang dipenuhi konsolidasi gerakan, tekanan politik, hingga berbagai bentuk pembungkaman terhadap aktivisme kampus.

“Gerakan yang berujung pada jatuhnya Soeharto itu tidak muncul tiba-tiba. Ada perjalanan panjang sebelumnya—kegelisahan, konsolidasi, aksi, penangkapan, sampai tekanan terhadap mahasiswa di banyak kampus,” ujar Heroe, yang mulai aktif dalam dinamika gerakan mahasiswa sejak 1986.

Kini menjabat Ketua Umum Pergerakan Advokat, Heroe menyebut penyusunan buku dilakukan secara kolektif dan melalui proses verifikasi yang ketat. Kesaksian para aktivis lintas angkatan dihimpun melalui diskusi dan percakapan di grup WhatsApp, lalu dicocokkan dengan dokumen internal gerakan, kliping media pada masanya, hingga laporan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Bagi Heroe, buku ini juga menjadi pengingat bahwa agenda Reformasi belum sepenuhnya selesai.

Baca Juga  ReJO Dukung Kapolri: Polri Tetap di Bawah Presiden untuk Jaga Stabilitas Nasional

“Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, penegakan hukum masih harus menjadi perhatian serius. Ini akar persoalan yang belum benar-benar selesai sampai sekarang,” katanya.

Tak hanya merekam demonstrasi dan dinamika politik kampus, buku tersebut juga mengisahkan keterlibatan mahasiswa dalam advokasi masyarakat. Salah satunya disampaikan aktivis era 1980-an, Heru Sahararita, yang menceritakan bagaimana mahasiswa kala itu turun mendampingi warga dalam berbagai persoalan sosial, mulai dari kasus Kedung Ombo, konflik agraria di Cilacap, hingga pendampingan masyarakat di kampung-kampung sekitar Yogyakarta.

Sementara itu, aktivis 1998 yang kini dikenal sebagai advokat sekaligus penggiat kecerdasan buatan (AI), Eko Prastowo, menyebut buku ini ditulis dengan pendekatan naratif historis agar mudah dipahami pembaca lintas generasi.

Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu bersinggungan dengan realitas sosial masyarakat.

“Kami ingin memotret bagaimana suasana masyarakat saat itu. Kampus tidak pernah terpisah dari kehidupan sehari-hari warga. Bahkan cerita-cerita ringan dan pengalaman personal para aktivis juga kami hadirkan di buku ini,” ujarnya.

Buku Kampus Pergerakan diterbitkan oleh komunitas alumni yang tergabung dalam Janabadra Club. Hampir 100 aktivis lintas generasi terlibat dalam proses penulisannya, mulai dari tokoh senior hingga mahasiswa yang masih aktif berkuliah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *